Sayangkan M Adil Berhentikan Anak Cucu Warga Meranti, Wan Husnul Minta Pertahankan Honorer Tamatan SMA

- Jumat, 14 Januari 2022 | 09:52 WIB
Wan Husnul Mubarak
Wan Husnul Mubarak

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU-Kisruh pemberhentian 4.000 lebih tenaga honorer di Kabupaten Kepulauan Meranti, mulai mendapat kritikan dari tokoh masyarakat. Salah satunya toko pemuda Melayu Riau, Wan Husnul Mubarak. Ia menyayangkan keputusan Bupati Meranti Muhamad Adil, yang memberhentikan anak-anak Meranti, dan memasukkan tenaga ahli pembantu Bupati, yang dibiayai dari APBD mencapai 11 orang, dengan gaji yang bisa untuk membayar gaji honorer yang digantikan.

Selain itu Wan Husnul juga menilai kebijakan Bupati M Adil yang mengambil tenaga honorer khusus untuk Sarja (S1) dan membuang tenaga honorer yang tamat SMA. Padahaln anak-anak Meranti yang hanya tamat SMA tersebut berharap pendapatan membantu keluarga dari gaji honor yang tidak sampau Rp1,5 juta

“Sangat disayangkan kebijakan Bupati yang memberhentikan honorer di Kabupaten Meranti. Kita mengetahui hampir 4.000 lebih honorer yang bekerja di Pemda Meranti hanya mengandalkan gaji tak sampai 1 juta. Justru diawal tahun mereka semua di berhenti. Alasan pemda akan di evaluasi dan di seleksi,” kata Wan Husnul.

“Banyak kecurigaan masyarakat dengan kebijakan Bupati tersebut akan merekrut honorer yg baru. Semoga itu tdk terjadi. Kita tau bahwa tingkat pendidikan para honorer rataratabtamat SMA. Seharusnya yang prioritas dipertahankan honorer tamat SMA bukan yang tamat S1, maupun S2,” tambahnya.

Dijelaskan anak dari tokoh Meranti yang juga mantan Gubernur Riau, Wan Abubakar, para tamatan S1 seharusnya bisa mencari pendapatan sesuai dengan keahliannya. Karena para sarjana tersebut memiliki pengalaman bekerja, dan bisa mencari diluar. Kalaupun ingin di Meranti bisa berusaha dengan kehalian selama menempuh pendidikan.

“Karena honorer yang tamat S1, pemda harus mendukung mereka ini utk bekerja di luar dan memcari pengalaman. Karena mereka sudah punya modal pendidikan, tentu bisa bersaing di luar. Tapi kalau honorer yang tamat SMA mau kerja apa mereka di luar sangat susah untuk mencari kerja, karena persaingan sangat ketat,” tegasnya.

“Seharusnya bupati menyadari bahwa anak honorer yang bekerja kemarin merupakan sebagian anak cucu, cicit para pejuang Meranti. Bupati harus menghargai dan menghormati itu. Klo tidak ada pejuang yg memperjuangkan kabupaten, Aidil tidak akan menjadi Bupati. Oleh karna itu coba lah buka pintu hati Aidil untuk menerima dan memprioritaskan anak yang tamat SMA untuk menjadi tenaga honorer,” tegasnya lagi.

 

Sementara disaat adanya pengurangan tenaga honorer, Bupati Aidil malah mengangkat tenaga ahli pembantu Bupati, yang gajinya mencapai Rp7 juta lebih perbulan. Belum lagi honor-honor kegiatan yang dijalankan oleh tenaga ahli. Ini menandakan Bupati Aidil tidak mempunyai kapasitas dalam membangun Meranti, kalau hanya mengandalkan tenaga ahli dari luar.

 

Halaman:

Editor: Nurmadi

Tags

Terkini

76 Napi di Riau Terima Remisi Hari Raya Waisak

Senin, 16 Mei 2022 | 13:27 WIB
X