Elit Politik Riau Pindah Partai, Pengamat: Politisi Afkir Permainkan Ideologi dan Cuma Mau Hore-Hore

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:06 WIB
Pengamat Politik UNRI, Saiman Pakpahan (Foto: Istimewa)
Pengamat Politik UNRI, Saiman Pakpahan (Foto: Istimewa)


HALUANRIAU.CO, RIAU - Mantan Gubernur Riau, Annas Maamun dan mantan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir pindah haluan ke Partai Nasdem.

Kelakuan dua elit politik ini menurut Pengamat Politik UNRI, Saiman Pakpahan sebagai pelecehan ideologi partai dan sekadar upaya cari perhatian.

"Kalau peta politik hanya akan begitu-begitu saja karena struktur pemilihnya tidak diintervensi sedemikian rupa. Tapi yang saya lihat ini cuma elit-elit politik afkir saja yang sedang cari panggung baru," ujarnya kepada Riaumandiri.co, Kamis (14/10/2021).

"Fenomena pemaiakan jas Nasdem kepada kedua tokoh afkir itu, ya biasa saja dalam politik. Ini kan hanya sebatas tokoh afkir yang pengin mainan baru, lalu lihat Nasdem kosong dan akhirnya beramai-ramai ke sana. Kabarnya juga mantan Bupati Inhu, Yopi Arianto juga akan merapat ke situ," tambahnya.

Baca Juga: Menteri Basuki Minta DPSP Waterfront Segera Selesai, Ingatkan Kerapian Kerja

Melihat kedua sosok tersebut, kata Saiman, merupakan tokoh afkir dari partai masing-masing. Irwan Nasir tak lagi berkuasa di partai maupun pemerintahan. Kini di partai lamanya, PAN, telah ada pemimpin baru.

Kemudian, Annas Maamun juga telah selesai dari Golkar, selesai di Rohil menjadi bupati, termasuk pernah menjadi gubernur di Provinsi Riau.

"Untuk main di 2024, mereka ini masih pengin eksis. Akhirnya Nasdem dijadikan pilihan. Cuma lucu aja. Kalau bicara ideologi, harusnya mereka itu pegiat partai sebelumnya. Partai buat mereka itu jadi semacam mainan. Mereka merendahkan posisi partai dari sebuah ideologi untuk mencapai kekuasaan dan mensejahterakan masyarakat, lalu dikonversikan jadi tujuan pragmatis dalam bentuk mainan-mainan politik," paparnya.

"Mau maju lagi, kayaknya tidak. Mereka itu cuma mau hore-hore saja di belakang. Kalau mau hore-hore tanpa partai kan enggak akan dirangkul sama mereka yang mau maju. Jadi satu-satunya cara agar mereka diperhatikan ya harus gabung di partai yang kosong. Lalu tujuannya bisa mewarnai politik 2024. Ya sebatas itu saja saya kira," tambahnya.

Baca Juga: 5 Logo Smartphone Populer yang Menyimpan Kisah Tersembunyi

Halaman:

Editor: Taufik Ilham

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X