Diskes Riau Lakukan Investigasi

- Jumat, 20 September 2019 | 10:30 WIB
01 20-09 =FOTO HL 2= Diduga terpapar asap, bayi berusia 3 hari, anak dari bapak Evan Zebdrato meninggal dunia. Terlihat kondisi di rumah duka Kelurahan Kulim, Tenayan Raya.jpg (1
01 20-09 =FOTO HL 2= Diduga terpapar asap, bayi berusia 3 hari, anak dari bapak Evan Zebdrato meninggal dunia. Terlihat kondisi di rumah duka Kelurahan Kulim, Tenayan Raya.jpg (1

PEKANBARU (HR)- Kabut asap tebal dengan kualitas udara yang berbahaya, mulai memakan korban jiwa. Seorang bayi yang baru berumur 3 hari, diduga meninggal dunia akibat terinfeksi kabut asap. Di mana dari informasi dokter di rumah sakit yang merawat bayi tersebut meninggal akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau, Mimi Nazir, saat dikonfirmasi, belum bisa memastiikan meninggalnya bayi yang baru berusia 3 hari tersebut akibat asap. Karena mesti dikoordinasikan dengan dokter yang merawat sang bayi, saat di rumah sakit.

“Kita belum mengetahui pastinya, apakah karena ISPA. Tentu dokter yang merawatnya yang lebih tahu, nanti akan kita cek betul apa tidak bayi tersebut meninggal karena ISPA, dengan kondisi asap saat ini,” jelas Mimi, Kamis (19/9).

Sementara itu, Diskes Riau langsung melakukan investigasi terhadap kasus meninggalnya bayi berumur 3 hari di RS Syafira Pekanbaru. Setelah mendapat informasi dari media di mana dokter rumah sakit yang mengatakan bayi tersebut meninggal karena terpapar asap, dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Ya, ini kami lagi melakukan investigasi informasi tersebut apa benar bayi itu meninggal karena asap. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bayi itu terkena asap, dan terkena ISPA,” jelas Kasi Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Yohanes.

“Dan dari hasil investigasi kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari ahlinya. Ada profesor yang akan melakukan pemeriksaan. Karena dari rumah sakit Syarifa yang kami temui, mereka hanya menerima pasien tersebut dan merawatnya, dan meninggal dunia,” jelas Yohanes.

Dijelaskannya, selain meminta keterangan dari pihak rumah sakit Syafira, pihaknya juga berkunjung ke rumah orangtua bagi yang meminggal di Kelurahan Kulim, karena informasi dari orangtua bayi juga dibutuhkan sebagai bahan tambahan.

“Tim kami juga bergerak ke rumah orangtua bayi yang meninggal. Kita minta informasinya. Nanti hasilnya kami jelaskan, besok (hari ini red) kami jelaskan lagi termasuk penjelasan dari profesor,” jelas Yohanes.

Terpisah, dari orangtua bayi yang meninggal Evan, diberitakan di beberapa media, pada hari kedua setelah kelahiran anaknya mengalami batuk-batuk dan juga sesak napas. Ia membawa ke bidan, namun tiba-tiba demam tinggi.

"Istri saya terkejut ketika istri saya bilang bibir anak saya menghitam dan panasnya makin tinggi, malam itu juga saya langsung bawa ke RS Syafira, namun dalam perjalanan bayi saya tidak tertolong lagi namun bayi diperiksa dokter RS Syafira," jelas Evan.

Dijelaskannya, dokter sempat memeriksa bayi dan mengatakan bayi terkena virus akibat asap. Sementara itu, Wakil Gubernur Riau (Wagubri), Edy Natar Nasution belum mengetahui ada bayi umur tiga hari meninggal dunia diduga terpapar asap di Pekanabru. Dan bayi tersebut meninggal dan diperiksa oleh pihak rumah sakit Syafira Pekanbaru.

"Tak tahu saya di mana itu. Itu sudah pasti belum,” kata Wagubri, Edy Natar.

"Saya belum dapat informasi itu. Coba tanya rumah sakit Syafira kalau memang informasinya seperti itu," tutupnya.

Bukan ISPA
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Muhammad Amin, mengatakan, berdasarkan kronologis dari lahir sampai meninggal dunia, bayi bukan disebabkan karena penyakit Ispeksi Saluran Pernapasan Akut, atau kabut asap, namun bisa diduga karena akibat penyumbatan saluran nafas.

Amin menjelaskan, bayi lahir Senin (16/9) pukul 16.45 WIB, di Bidan Praktek Mandiri, secara Normal (Pervaginam). Dengan BBL 2800 gram PB 49 cm, lahir spontan dan menangis kuat, air ketuban jernih dan kondisi placenta baik. Umur kehamilan pada saat persalinan cukup bulan, pemeriksaan kehamilan dilakukan di BPM sebanyak 6 kali selama kehamilan.

Pada tanggal 17 September 2019 Jam 09.00 WIB Bayi dan ibu dipulangkan ke rumah dengan kondisi Ibu dan Bayi dalam keadaan sehat. Pada tanggal 17 September 2019 Jam 15.00 WIB bidan penolong persalinan dihubungi oleh keluarga pasien dengan keluhan bayi Ny. Lasmayani demam, bidan datang dan memeriksa bayi dengan hasil suhu bayi 39.5 °C.

Bidan memberikan obat penurun panas sebanyak ¼ sendok teh dan menganjurkan bayi dikompres. Pada Jam 16.00 WIB diperiksa kembali kondisi suhu badan bayi sudah turun menjadi 38°C. Setelah lahir bayi pada hari pertama belum mendapat ASI, baru mendapatkan ASI pada hari kedua dan ketiga. Selama bayi disusui tidak pernah disendawakan karena ibu belum pandai cara menyendawakan bayinya.

Pada tanggal 18 September 2019 Jam 10.00 WIB bidan melakukan homecare ke rumah bayi dan menemukan kondisi bayi setelah diperiksa suhu badannya 37 °C. Jam 19.00 WIB bidan dipanggil orangtua kembali ke rumah dengan keluhan bayi biru, muntah dan keluar cairan dari hidung berwarna bening beberapa lama setelah bayi diberikan ASI. Bayi diperiksa bidan dan ditemukan suhu badannya 42 °C dan langsung di rujuk ke RS didampingi dengan bidan untuk penanganan lebih lanjut. Pasien diantar oleh bidan ke RS. Sampai di RS bayi dinyatakan sudah meninggal di perjalanan.

"Berdasarkan kronologis setelah bayi lahir sampai meninggal kematian bayi bukan disebabkan ISPA ataupun Kabut Asap namun bisa diduga akibat penyumbatan saluran nafas," jelas Amin.(nur/her)

Editor: redaktur haluan

Tags

Terkini

X