Melihat Produksi Padi Kuantan Singingi

- Sabtu, 20 Maret 2021 | 19:30 WIB
Robby Junius SE
Robby Junius SE

Oleh: Robby Junius, SE
(Statistisi Muda/Koordinator Fungsi Statistik Produksi BPS Kab. Kuantan Singingi)


Padi merupakan komoditas strategis bagi Indonesia, mengingat sampai saat ini, nasi yang merupakan olahan dari padi merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia.

Untuk menyusun perencanaan yang baik diperlukan data dan informasi yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar penetapan target dan tujuan yang ingin dicapai.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau pada Senin, 1 Maret 2021 yang lalu, terjadi peningkatan produksi yang relatif besar di Kabupaten Kuantan Singingi. Jika produksi padi pada tahun 2019 sebesar 19.321,74 ton-GKG maka pada tahun 2020 produksi padi meningkat menjadi 27.197,76 ton-GKG. Artinya, terjadi peningkatan sebesar 40,76% atau setara dengan 7.876,02 ton-GKG.

Faktor dominan yang menyebabkan kenaikan produksi tersebut yaitu terjadinya peningkatan pada luas panen tahun 2020 dibandingkan tahun 2019. Jika pada tahun 2019 luas panen padi seluas 5.405 hektar, maka pada tahun 2020 luas panen padi meningkat menjadi 8.091 hektar.

Artinya ada penambahan luas panen padi sebesar 49,7% atau setara dengan 2.686 hektar. Hal yang sangat menggembirakan tentu saja, meskipun tentu saja masih belum bisa menjadikan swasembada beras untuk Kabupaten Kuantan Singingi.

Peningkatan ini merupakan keberhasilan para pihak (baik petani maupun pemerintah) untuk meningkatkan jumlah panen di sebagian besar lahan padi sawah yang semula hanya satu kali panen per tahun, menjadi dua kali panen setahun.

Peningkatan panen pada Oktober-Desember 2020 terjadi karena petani bersedia melakukan penanaman lebih awal, yaitu pada bulan Juli-Agustus 2020 sehingga bisa dipanen pada akhir tahun 2020. Hal ini tentu patut diapresiasi, karena pada tahun 2019, padi yang ditanam pada akhir tahun baru bisa dipanen pada awal tahun 2020.

Nah, bagaimana jika kita lihat pada tahun ini? Sayangnya prospeknya terlihat kurang begitu menggembirakan. Masih berdasarkan rilis BPS Provinsi Riau, angka sementara produksi padi di Kabupaten Kuantan Singingi periode Januari-April 2021 hanya 3.686,29 ton-GKG, jauh lebih kecil dibanding periode yang sama pada tahun 2020 yaitu sebesar 10.692,49. Semestinya ini menjadi alarm dini bagi para pihak, bahwa mempertahankan jauh lebih sulit daripada mencapai peningkatan produksi.

Hal yang akan menjadi tantangan untuk mempertahankan produksi padi adalah bagaimana mendorong petani untuk segera melakukan penanaman kembali pada lahan yang telah dipanen pada periode Oktober-Desember tahun 2020 sebelum berakhirnya triwulan pertama 2021 ini.

Jika para pihak lengah, dan penanaman kembali lahan yang telah panen pada periode Oktober-Desember 2020 menunggu setelah Idul Fitri, maka hal itu akan menjadi ancaman yang nyata dalam usaha untuk mempertahankan produksi padi di Kabupaten Kuantan Singingi, karena lahan yang sudah berhasil ditingkatkan menjadi dua kali panen pada tahun 2020, bisa jadi kembali hanya bisa panen satu kali pada tahun 2021. Semestinya untuk mempertahankan luasan panen pada tahun ini, lahan yang baru panen pada akhir 2020, harus segera ditanam kembali pada awal 2021 ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan peran aktif pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian padi. Perhatian pemerintah tersebut bisa dalam hal pemberian subsidi pupuk, bantuan benih, insentif tanam, penyediaan alat dan mesin pertanian. Akan tetapi perhatian pemerintah yang dibutuhkan petani bukan hanya berfokus dalam segi sarana dan prasarana saja, tetapi juga tidak kalah penting pemberian motivasi, bimbingan teknis dan pemantauan secara terus menerus sehingga petani merasa diperhatikan.

Pemerintah desa juga bisa sangat berperan dalam membantu petani padi, terutama dalam hal penyerapan dan pemasaran hasil pertanian padi tersebut. Salah satu caranya bisa melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMdes diharapkan bisa bersinergi dengan petani atau kelompok tani. Dengan potensi yang ada BUMDes bisa diarahkan untuk membantu memasarkan hasil produksi. BUMDes yang menjadi tempat penampung sekaligus pemasaran.

Nantinya, BUMDes juga bisa berperan dalam menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan petani. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, dan petani pun akan menjadi semakin termotivasi untuk kembali ke sawah.

Tidak mudah untuk meraih peningkatan, akan tetapi jauh lebih sulit untuk mempertahankan. Butuh usaha, kerja keras dan kepedulian para pihak.***

Editor: Eka Buana Putra

Terkini

Amalan Saat Tahun Baru Islam dan Amlannya

Minggu, 8 Agustus 2021 | 19:55 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam 1 Muharram

Minggu, 8 Agustus 2021 | 19:53 WIB
X