Kopi Tiam dan Secangkir Rindu Kampung Halaman

- Jumat, 2 Oktober 2020 | 11:38 WIB
kopi
kopi


 OLEH: RAHMAD AGUS SURYADI





Mahasiswa Institut Pertanian Stiper Yogyakarta





Pegiat Komunitas Literasi Kembul.id






HALUANRIAU.CO - Sudah lima tahun lamanya saya tidak menginjakan kaki saya di kota ini, kota dengan kearifan lokal berbalut asimiliasi budaya Tionghoa-melayu, yaitu kota Bagan Siapi-Api. Bagan Siapi-Api atau Bagan Api adalah kota yang terletak di muara sungai Rokan Hilir, di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir.




Saya coba menikmati setiap sudut kota yang penuh warna cerah khas Tionghoa dan ke ramahan masyarakatnya yang begitu luar biasa, tidak lupa saya mampir ke kedai kopi tua yang banyak di temukan di sepanjang jalan Perdagangan dan sekitarnya. Lalu saya pesan kopi hitam dan sepiring roti bakar hingga tanpa disadari saya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kota ini.


Kota dengan luas yang tidak melebihi lima ratus kilo meter persegi ini banyak menyimpan kenangan kerinduan semasa remaja saya, dan tidak hanya itu kota tersebut juga banyak sekali menyimpan kekayaan sejarah khasanah intelektual bagi siapapun yan ingin mempelajarinya. Terlebih pada 4 Oktober sebagai momentum peringatan hari jadi Kabupaten Rokan Hilir, sangat tepat rasanya jika kita berkontemplasi dan mengutip serakan makna Negeri Seribu Kubah.


Bagaimana tidak, kota yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional membuat kota ini menjadi wilayah strategis dalam pengembangan ekonominya. Kota Bagan Siapi-Api juga menjadi kota nelayan yang memproduksi ikan terbesar ke-2 setelah kota Bergen di Norwegia, di lansir dalam surat kabar De Indische Mercuur pada tahun 1928.


Dikarenakan hasil perikanan yang begitu pesat, kota ini menjadi perhatian khusus pemerintah Hindia Belanda dengan melengkapi fasilitas publik seperti pembangkit tenaga listrik, pemadam kebakaran dan Menara pengolahan air minum atau di sebut Menara air Leding (Leiding Water) pada tahun 1934. Bahkan kota Bagan Siapi-api disebut-sebut menjadi kota Ville Lumiere atau Kota Cahaya.


Namun dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang kejayaan silam dan romantisme sejarah kota Bagan Siapi-api, tetapi saya mencoba melalui pendekatan yang berbeda. Saya coba membaca kekayaan antropologi budaya melalui secangkir Kopi Tiam khas Bagan Siapi-api. Dimana hadir semacam kesepakatan bersama yang memanifestasikan bentuknya dalam secangkir Kopi Tiam, berhubung pada 1 Oktober adalah hari kopi se-dunia.

Halaman:

Editor: Eka Buana Putra

Terkini

Amalan Saat Tahun Baru Islam dan Amlannya

Minggu, 8 Agustus 2021 | 19:55 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam 1 Muharram

Minggu, 8 Agustus 2021 | 19:53 WIB
X