Peran Apoteker dalam Memberikan Edukasi Swamedikasi Penggunaan Obat di Pedesaan

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 16:39 WIB
Ilustrasi apoteker (Pixabay/Monfocus)
Ilustrasi apoteker (Pixabay/Monfocus)

Oleh: Ela Malita Krismon, Riska Safitri, dan Sony Dermawan*

 

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan swamedikasi semakin banyak dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya di kalangan akademisi. Pengetahuan masyarakat tentang hidup sehat dan berbagai macam penyakit serta iklan dari media menjadi faktor meningkatnya praktik swamedikasi (Osemene & Lamikanra, 2012). Swamedikasi merupakan upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri (Depkes RI, 2006).

WHO mendefinisikan swamedikasi sebagai pemilihan dan penggunaan obat modern, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi gejala dan penyakit (WHO, 1998). BPS pada tahun 2017 mencatat terdapat 69,43% penduduk Indonesia yang melakukan swamedikasi dibandingkan penduduk yang berobat jalan 46,32%, dan meningkat dari tahun 2016 sebanyak 63,77%. (BPS, 2017).

Peningkatan praktik swamedikasi perlu mendapat perhatian dan evaluasi karena upaya swamedikasi memungkinkan terjadinya medication error (kesalahan pengobatan). Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan obat, walaupun masyarakat dapat mengakses informasi tentang pengobatan secara bebas.

Masalah yang sering terjadi pada praktik swamedikasi adalah dosis yang berlebihan, durasi pemakaian obat, adanya interaksi obat dan sebagainya. Swamedikasi yang rasional (tepat diagnosis, tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis), dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri serta meningkatnya morbiditas (Osemene & Lamikanra, 2012).

Berdasarkan data Riskesdas 2013, rumah tangga yang menyimpan obat untuk pengobatan sendiri. Sejumlah 103.860 (35,2%) dari 294.959 Rumah tangga di Indonesia menyimpan obat swamedikasi. Proporsi rumah tangga yang menyimpan obat keras 35,7% dan antibiotika 27,8%. Terdapat obat keras dan antibiotika untuk swamedikasi menunjukkan penggunaan obat yang tidak rasional.

Selain itu, 81,9% rumah tangga menyimpan obat keras dan 86,1% rumah tangga menyimpan antibiotika yang diperoleh tanpa resep (Kemenkes RI, 2015). Masyarakat memilih swamedikasi karena menghemat waktu yang dari pada harus menunggu dokter, bahkan menyelamatkan nyawa dalam kondisi akut dan mungkin berkontribusi untuk menurunkan biaya perawatan kesehatan (Eticha & Mesfin, 2014).

Pengetahuan mengenai obat-obatan sangatlah bermanfaat besar, karena obat selain bisa sebagai penyembuh dari sakit juga bisa berpotensi untuk mendatangkan malapetaka. Oleh karena itu semakin lengkap pengetahuan tentang obat dan bagaimana cara menggunakannya secara tepat dan aman, maka masyarakat akan lebih banyak memetik manfaatnya. Masyarakat yang memutuskan untuk tidak perlu ke dokter tetapi tidak tahu jenis obat yang harus dibeli, selayaknya kita bertanya kepada apoteker di apotek terutama untuk obat tanpa resep dokter.

Berdasarkan PP No.51 2009, pekerjaan kefarmasian adalah perbuatan meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian, pengelolaan obat, pelayanan obat resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat dan obat tradisional (PP No. 51, 2009).

Halaman:

Editor: Bagus Pribadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Seberapa Penting Etika Bisnis Dalam E-Commerce

Rabu, 19 Januari 2022 | 10:31 WIB

Etika Bisnis Dalam E -Commerce Pada Merek Dagang

Sabtu, 15 Januari 2022 | 15:29 WIB

SIM Kamu Asli atau Palsu? Berikut Ciri-Cirinya

Rabu, 12 Januari 2022 | 20:07 WIB

Penggunaan Media Sosial Sebagai Alat Diplomasi Digital

Jumat, 31 Desember 2021 | 15:07 WIB

Digital Marketing, Kiat Sukses Kembangkan UMKM

Rabu, 15 Desember 2021 | 09:53 WIB
X