Ternyata Singkong Ada yang Mengandung Sianida Berbahaya, Kenali Ciri Cirinya DAN Cara Mengobatinya

- Selasa, 28 September 2021 | 05:28 WIB
Singkong atau Ubi Kayu
Singkong atau Ubi Kayu

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Apakah benar bahwa Singkong atau ubi kayu merupakan salah satu bahan pangan yang mengandung racun yang bisa membahayakan manusia? Mari simak uraian sederhana yang saya rangkum dari berbagai sumber referensi dibawah ini.

Ubi Kayu alias Singkong (Manihot utilisima) atau dikenal juga sebagai ketela pohon dan di dataran tinggi Gayo dikenal dengan sebutan Gadung, merupakan tanaman yang tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Tanaman singkong. Sebagai salah satu produk tanaman pangan, singkong sebenarnya merupakan tanaman multi guna yang dapat dimanfaatkan secara keseluruhan tanamannya, mulai dari batang, daun dan umbinya.

Dari segi nutrisi, ubi segar singkong mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu/karbon 1%, sehingga merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan yang cukup potensial sebagai salah satu pangan alternatif pengganti beras.

Selain sebagai bahan makanan pokok di beberapa daerah, singkong dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan yang punya nilai ekonomis cukup tinggi dan rasa yang enak seperti getuk, tape, keripik, opak (kerupuk singkong), aneka kue, dan produk olahan lainnya.

Meski merupakan bahan pangan serba guna dan sangat populer di kalangan masyarakat, namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa jenis singkong tertentu yang memiliki kandungan senyawa racun berbahaya yang dapat menimbulkan keracunan, yaitu linamarin dan lotaustralin, keduanya termasuk golongan glikosida sianogenik.

Toksin/racun Glikosida sianogenik yang terkandung pada beberapa jenis singkong (tidak semua singkong menngandung racun tersebut) merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan, yang berupa turunan asam amino yang dapat melepaskan zat sianida dalam tubuh saat dikonsumsi, sehingga berpotensi menimbulkan keracunan.

Terdapat banyak jenis glikosida sianogenik, seperti misalnya pada jenis kacang almond yang disebut amygdalin, pada biji Shorgum disebut durrhin, pada rebung bambu (Bahasa Gayo, Tuwis) disebut taxiphyllin. Sementara pada umbi singkong, glikosida sianogenik utamanya adalah linamarin, dan sejumlah kecil lotaustralin (metil linamarin).

Menurut ilmu kimia terapan, Linamarin dengan cepat dihidrolisis menjadi glukosa dan aseton sianohidrin sedangkan lotaustralin dihidrolisis menjadi sianohidrin dan glukosa. Di bawah kondisi netral, aseton sianohidrin didekomposisi menjadi aseton dan hidrogen sianida. Hidrogen sianida (HCN) atau asam sianida. Inilah yang merupakan penyebab mengapa dalam kondisi tertentu, mengkonsumsi singkong bisa menyebabkan keracu,

Agar terhindar dari keracunan tersebut, ada baiknya kita mengenali jenis singkong yang mengandung racun sianida tersebut.

Sebagian besar masyarakat yang sudah terbiasa mengkonsumsi singkong, apalagi yang sudah terbiasa menjadikannya sebagai makanan pokok, mengenal sianida pada umbi singkong sebagai racun asam biru karena keberadaan racun tersebut ditandai dengan adanya bercak warna biru pada permukaan umbi singkong dan akan menjadi toksin (racun) jika dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm (part per miligram). Kadar sianida pada singkong bervariasi antara 15-400 mg/kg pada singkong segar.

Halaman:

Editor: Eka Buana Putra

Sumber: infopublik.id

Tags

Terkini

10 Pekerjaan yang Tidak Butuh Jam Kantor

Kamis, 21 Oktober 2021 | 20:00 WIB

Amalan Saat Tahun Baru Islam dan Amlannya

Minggu, 8 Agustus 2021 | 19:55 WIB
X