Bersiap! 2023 SNMPTN Diganti SNBP, Seleksi Bedasarkan Prestasi

- Senin, 26 September 2022 | 13:34 WIB
SNMPTN dan SBMPTN resmi berganti nama menjadi SNBP dan SNBT. (snpmb_bppp/Twitter)
SNMPTN dan SBMPTN resmi berganti nama menjadi SNBP dan SNBT. (snpmb_bppp/Twitter)

HALAUANRIAU.CO, PENDIDIKAN - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Makarim resmi mengumumkan bahwasannya SNPTN telah berganti nama menjadi SNBP pada tahun 2023.

Sebelumnya SBMPTN merupakan seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dengan cara tes tertulis atau yang lebih dikenal sebagai UTBK atau UTBK-SBMPTN. Namun pada tahun 2023 yang mendatang akan berganti nama menjadi SNBP singkatan dari Seleksi Nasional Berbasis Prestasi. Perubahan skema ini merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar episode ke-22.

Tidak hanya berganti nama, ketentuan baru yang ditetapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), sistemnya juga berganti. Tes seleksi masuk PTN sudah tidak lagi dilaksanakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Tapi proses seleksi penerimaan mahasiswa baru PTN ini nantinya berada di bawah Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BPPP).

Kini, penilaian didasarkan dari 50% nilai rapor serta 50% pendukung, prestasi, dan juga portofolio. Perbedaan SNBP dengan sistem SNMPTN yang lalu sebelum adanya perubahan, terdapat penambahan kriteria yaitu hanya minimal 50% dari rerata nilai rapor seluruh mapel. Untuk sisa 50%, yaitu kumpulan dari minat dan bakat calon mahasiswa. Adapun, hal tersebut juga mencakup nilai rapor maksimal 2 mata pelajaran pendukung untuk prodi yang dipilih.

"Dengan pemberian bobot yang tinggi ini, diharapkan peserta didik terdorong untuk berprestasi di seluruh mata pelajaran secara holistik," ujar Nadiem dalam konferensi pers virtual, Rabu (7/9/2022).

Baca Juga: Nahas! Bocah 5 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam Di Kolam Ponpes di Rohil

Menurut Nadim perubahan sekema ini di lakukan agar mendukung peserta didik untuk focus menggali minat dan bakatnya sejak dini.

“Dengan demikian, peserta didik didorong untuk fokus pada keseluruhan pembelajaran serta menggali minat dan bakatnya sejak dini. Nantinya peserta didik diharapkan agar menyadari bahwa semua mata pelajaran adalah penting dan agar mereka membangun prestasinya sesuai minat dan bakat,” jelas Nadiem.

Dikutip dari detik berikut penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme Perbedaan SNMPTN dan SBNP

  1. Mekanisme SNMPTN
    Dalam mekanisme SNMPTN, pemeringkatan siswa dilakukan oleh sekolah dengan memperhitungkan nilai mata pelajaran berdasarkan jurusan, yakni:

    • Jurusan IPA: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi;
    • Jurusan IPS: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi;
    • Jurusan Bahasa: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu Bahasa Asing.
    • SMK: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kompetensi Keahlian.

      Sedangkan kriteria lain, berupa prestasi akademik juga ditentukan apabila ada siswa dengan nilai yang sama.

      Kemudian jumlah siswa yang masuk dalam pemeringkatan adalah berdasarkan ketentuan kuota akreditasi sekolah, sebagaimana dikutip dari laman LTMPT.

  2. Mekanisme SNBP
    Mendikbudristek Nadiem mengatakan mekanisme SNMPTN menimbulkan beberapa masalah bagi peserta didik. Salah satunya, siswa jadi tidak punya kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat.

    Oleh karena itu, mekanisme pemeringkatan dalam SNMPTN diubah berdasarkan Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2022 Pasal 5.

    Pemeringkatan SNBP dilakukan berdasarkan 2 (dua) komponen yaitu:

    • Komponen pertama, yang dihitung berdasarkan rata-rata nilai rapor seluruh mata pelajaran paling sedikit 50 persen dari bobot penilaian;

    • Komponen kedua, yang dihitung berdasarkan nilai rapor paling banyak 2 (dua) mata pelajaran pendukung Program Studi yang dituju, portofolio, dan/atau prestasi paling banyak 50 persen dari bobot penilaian.

      Komposisi persentase komponen pertama dan komponen kedua ditetapkan oleh masing-masing PTN dengan total 100 persen.

      Dengan aturan ini, persentase komponen bisa berbeda antarprodi di dalam satu PTN.

(Rina/HRC-MaG)

Halaman:

Editor: Bilhaqi Amjada A'araf

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Presidensi G20 2023 Resmi Diserahkan ke India

Rabu, 16 November 2022 | 14:59 WIB

Kelamin Bocah Terjepit Resleting, Damkar Turun Tangan

Selasa, 18 Oktober 2022 | 19:58 WIB
X