Bowo Irit Bicara

- Jumat, 5 April 2019 | 10:46 WIB
01 05-04 Bowo Sidik usai diperiksa di KPK. (DETIK)
01 05-04 Bowo Sidik usai diperiksa di KPK. (DETIK)

Jakarta (HR)- Tersangka kasus dugaan suap Bowo Sidik Pangarso irit bicara soal amplop bercap jempol yang disita terkait kasusnya. Dia mengatakan telah menjelaskan soal amplop itu ke penyidik.
"Sudah saya jelaskan ke penyidik," kata Bowo saat keluar dari Gedung KPK, jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (4/4).

Bowo, yang juga anggota DPR ini, langsung buru-buru masuk ke mobil tahanan. Dia hari ini diperiksa sebagai saksi untuk tersangka lain di kasus dugaan suap ini.

"Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka lainnya," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat dimintai konfirmasi.

KPK telah menetapkan Bowo sebagai tersangka kasus dugaan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti lewat seorang bernama Indung. KPK juga telah menetapkan Asty dan Indung menjadi tersangka.

Asty diduga memberi Bowo duit Rp 1,5 miliar lewat 6 kali pemberian, serta Rp 89,4 juta yang diberikan Asty pada Bowo lewat Indung saat OTT terjadi. Selain itu, KPK juga menduga Bowo menerima duit Rp 6,5 miliar dari pihak lain.

Uang Rp 1,5 miliar yang diduga dari Asty dan Rp 6,5 miliar diduga terkait gratifikasi itu ditemukan dalam 400 ribu amplop di 82 kardus dan 2 box kontainer saat OTT terhadap Bowo. Amplop itu berisi uang pecahan Rp 20 ribu atau Rp 50 ribu yang diduga untuk keperluan serangan fajar pemilu legislatif yang diikuti Bowo.

Hingga Selasa (2/4), KPK telah membuka sebanyak 3 kardus berisi sekitar 12.300 amplop dengan total uang Rp 246 juta di dalamnya. Pada amplop-amplop itu, KPK menemukan cap jempol.
Kemairn, KPK kembali membuka kardus keempat. Total uang yang telah ditemukan dari keempat kardus ini sekitar Rp 300 juta.

Libatkan Bawaslu

Di sisi berbeda, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melibatkan atau bekerja sama dengan Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) untuk menginvestigasi 'cap jempol' pada amplop 'serangan fajar' anggota DPR dari F-PG, Bowo Sidik Pangarso.

"Seharusnya KPK bekerja sama dengan Bawaslu karena dugaan itu sangat membuat orang bertanya dan dugaan kasus ini ada kaitannya dengan pemilu. Nanti Bawaslu bertugas untuk menginvestigasi," kata Fahri Hamzah kepada awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/4).

Fahri menyarankan kerjasama KPK dengan Bawaslu ini karena dirinya menduga adanya modus-modus 'serangan fajar' lainnya yang belum terungkap. Untuk itulah dia meminta Bawaslu proaktif merespons hal tersebut.

"Ini kan yang tertangkap. Jangan-jangan amplop begitu banyak di tempat lain, dan itu kan modusnya mudah dilacak. Maka Bawaslu harus mengambil langkah cepat supaya, paling tidak, ini cukup menjadi satu peristiwa yang tidak ada peristiwa lainnya," jelasnya. (dtc, sam)

Editor: redaktur haluan

Tags

Terkini

Mahfud MD Yakin 13 Februari Sambo Akan Dihukum Adil

Rabu, 1 Februari 2023 | 12:02 WIB

Menkes: Vaksin Covid, Gratis untuk Balita

Kamis, 5 Januari 2023 | 17:24 WIB

Istri Wiji Thukul, Sipon Meninggal Dunia

Kamis, 5 Januari 2023 | 15:34 WIB
X