BPOM Sebut Vaksin Nusantara yang Dikembangkan Terawan Belum Bisa Dilanjutkan ke Uji Klinis

- Rabu, 8 September 2021 | 22:53 WIB
illustrasi vaksin nusantara
illustrasi vaksin nusantara

HALUANRIAU.CO, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengakui, Vaksin Nusantara yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto belum bisa melanjutkan ke tahap uji klinis lanjutan.

Ada beberapa syarat yang belum terpenuhi dalam pengembangan vaksin, yaitu Cara Uji Praktik Klinis yang Baik, Pembuktian Konsep, Praktik Laboratorium (Good Laboratory Practice) dan Cara Pembuatan Good Manufacturing Practice.

Anggota IDI dan Asesor Khusus Komnas Vaksin COVID-19 Dr.dr.Anwar Santoso, SpJP(K) mengatakan, selain terkendala kondisi ada beberapa kendala teknis yang belum dipenuhi oleh peneliti Vaksin Nusantara.

“Ada beberapa hal teknis yang belum dipenuhi oleh peneliti Vaksin Nusantara yaitu terkait good clinical practice dan good manufacturing practice dan ada beberapa masalah dalam good medical practice,” kata Anwar dalam pesan elektronik yang diterima wartawan, Rabu. , 14 April.

Masalah selanjutnya adalah vaksin antigen Nusantara bukan berasal dari virus Indonesia melainkan Amerika.

"Antigennya bukan berasal dari virus Indonesia tapi didapat dari Amerika yang kita tidak tahu persis bagaimana urutan genoricnya, langsung apa virus selanjutnya didapat dari amerika," beber Anwar.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito menjelaskan mengapa vaksin COVID-19 Nusantara tidak memberikan izin untuk melakukan uji klinis fase II.

Penny mengatakan, tim peneliti vaksin mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berulang kali mengabaikan hasil permintaan dan evaluasi bpom.

Padahal, berdasarkan hasil uji klinis fase I BPOM, vaksin Nusantara dinilai belum memenuhi banyak aturan tahapan uji klinis, antara lain good manufacturing practice dan good clinical practice.

“Komitmen tindakan koreksi atau tindakan pencegahan sudah diminta dari awal, tetapi diabaikan, diabaikan, diabaikan. Tetap tidak bisa, back to back. Jadi berbagai aspek, praktik klinis yang baik dan praktik manufaktur yang baik untuk produksi vaksin belum terpenuhi,” kata Penny dalam pernyataan yang dikutip pada Rabu, 14 April.

Halaman:

Editor: Eka Buana Putra

Terkini

RI Ambil Alih Kendali Udara di Natuna dari Singapura

Selasa, 25 Januari 2022 | 15:34 WIB
X