Semangat Menanam Mangrove Hingga Didatangi Presiden Jokowi, Kisah PKPRM Mangrove di Riau - Bagian Terakhir

- Sabtu, 18 Desember 2021 | 11:00 WIB
Presiden Joko Widodo turut menanam mangrove di Pantai Raja Kecik, Desa Muntai Barat
Presiden Joko Widodo turut menanam mangrove di Pantai Raja Kecik, Desa Muntai Barat

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Ribuan warga Pulau Bengkalis tumpah ruah di sepanjang jalan. Selasa (28/9) menjadi sejarah bagi warga desa di salah satu pulau terluar Indonesia ini. Berkat kerja keras warga desa memulihkan lingkungan, Presiden Joko Widodo turun langsung ikut menanam mangrove di Pantai Raja Kecik, Desa Muntai Barat.

Penanaman mangrove telah menggaungkan nama dan membangkitkan semangat warga desa Muntai Barat untuk terus berjuang memulihkan lingkungan di desa mereka. Terlebih lagi ikut hadir mendampingi Presiden, Menteri LHK Siti Nurbaya, Kepala BRGM Hartono Prawiraatmaja, Gubernur Riau Syamsuar, Bupati Bengkalis Kasmarni dan banyak pejabat negara lainnya.

''Bagi kami ini menjadi sejarah, berkat menanam mangrove Bapak Presiden sampai datang menjejakkan kaki di kampung ini. Semoga setelah ini akan terbangun juga pemecah ombak, sehingga mangrove yang kami tanam bersama Bapak Presiden, dapat terus tumbuh menjaga desa ini dari ancaman abrasi,'' harap Haris (65), salah satu tokoh masyarakat Desa Muntai Barat.

Sementara itu dalam arahannya di hadapan ratusan masyarakat yang menanam mangrove di Desa Muntai Barat, Presiden Jokowi mengatakan penanaman mangrove akan terus dilanjutkan, karena keberadaan mangrove sangat penting untuk penyerapan emisi karbon.

"Ini meneguhkan komitmen kita terhadap Paris Agreement, terhadap perubahan iklim dunia dan di 2021 ini kita akan melakukan rehabilitasi mangrove di seluruh Tanah Air sebanyak 34 ribu ha," ujar Presiden dalam keterangan pers usai penanaman.

Presiden juga sempat mengunjungi Jembatan Datuk Bandar Jamal yang menjadi ikon ekowisata mangrove di lokasi ini. "Kita harapkan nanti kawasan ini akan bisa kita perbaiki, kita rehabilitasi dalam rangka mengendalikan abrasi, dalam rangka juga mendukung ekowisata, pariwisata di daerah, dan juga tentu saja kita harapkan juga mendukung ekonomi masyarakat di sekitar kawasan ini," jelasnya.

Dampak perubahan iklim memang paling dirasakan masyarakat pesisir Indonesia. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa tahun 2050 diprediksi 199 kota pesisir Indonesia bakal terkena banjir rob, selain itu 118.000 hektar wilayah terendam air laut, dengan prediksi 8,6 juta populasi terdampak, serta kerugian diperkirakan mencapai Rp1.576 triliun (Rosalina et al., 2021).

Adapun potensi kerugian ekonomi dampak perubahan iklim juga telah menjadi indikator nasional di RPJMN 2020-2024. Selain kehilangan daratan, dampak perubahan iklim juga memberi dampak sosial ekonomi bagi masyarakat desa (Ulfa, 2018).

Untuk itu pemerintah Indonesia serius melakukan rehabilitasi melalui kegiatan PKPRM Mangrove. Ekosistem mangrove di Riau berada di Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Kota Dumai, Pelalawan, Rokan Hilir, dan Siak. Mangrove dibagi berdasarkan kerapatan tajuk.

Untuk kerapatan mangrove lebat, potensinya terdapat 219.070 ha. Untuk mangrove sedang, terdapat 2.537 ha. Sedangkan kerapatan mangrove jarang mencapai 3.288 ha. Sehingga total eksisting mangrove di Provinsi Riau mencapai 224.895 ha. Adapun potensi rehabilitasi mangrove sekitar 12.207 ha. Pada tahun 2020 melalui skema PEN Mangrove dilaksanakan rehabilitasi seluas 692 ha, dengan jumlah 48.504 HOK.

Halaman:

Editor: Dodi Ferdian

Sumber: Rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X