Kematian Balita Tanpa Kepala di Samarinda karena Tenggelam

- Kamis, 27 Februari 2020 | 22:03 WIB
Balita tanpa kepala
Balita tanpa kepala

HALUANRIAU.CO, SAMARINDA - Seorang balita, Ahmad Yusuf Ghazali (4) di Samarinda yang ditemukan dalam kondisi organ tidak utuh ternyata meninggal akibat tenggelam.

Hal itu diketahui dari hasil forensik Polri sekaligus menjawab dugaan balita itu meninggal tidak wajar.

Pernyataan itu dikeluarkan Dokter Forensik Polri Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti, pemeriksaan sekaligus peneliti kerangka tulang balita Yusuf, usai membongkar makam, Selasa (18/2) lalu.

Hastry menerangkan, pemeriksaan yang dia lakukan berdasarkan perintah Mabes Polri, atas permintaan kuasa hukum keluarga korban kepada Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Muktiono.

Hastry sendiri, memeriksa struktur tulang mulai tulang belakang ruas leher, hingga tulang dada yang utuh tanpa ada kerusakan, atau cedera. Juga kondisi tulang iga, hingga tulang paha dan kedua tungkai.

"Tulang-tulang yang saya temukan pada pemeriksaan ini dalam kondisi kering. Dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan," kata Hastry, kepada wartawan, di Aula Serbaguna Mapolresta Samarinda, Kamis (27/2).

Dia menerangkan, persambungan antar tulang juga tidak ditemukan resapan darah, atau patahan. Pelepasan tulang, normal disebabkan proses pembusukan.

"Kesimpulan, setelah dilakukan pemeriksaan jenazah pada kerangka kondisi tidak utuh, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada kerangka. Serta ditemukan ganggang air pada pemeriksaan laboratorium forensik. Sebab meninggalnya adik Yusuf, akibat tenggelam," ujar Hastry.

Hastry pun menegaskan, dalam pemeriksaan kerangka tulang, juga tidak ditemukan bekas goresan benda tajam, maupun benda asing lain. "Dari pemeriksaan tulang leher yang pertama, kalau memang tulang leher 1-7 bagus semua, tidak ada tanda kekerasan, menandakan kepala terlepas karena proses pembusukan. Adik Yusuf sudah 16 hari di air," ungkap Hastry.

"Kondisi korban dalam keadaan pembusukan, kepala mudah lepas. Almarhum juga masih anak kecil, dan tulang kepala merupakan tulang rawan dan pasti cepat lepas dan hancur dalam air. Demikian kami uraikan dengan sejujur-jujurnya, mengingat sumpah jabatan dan Kitab UU Hukum Acara Pidana," terang Hastry.

Orang tua balita Yusuf, Bambang Sulistyo (38) yang juga hadir dalam kesempatan itu, menyatakan menerima hasil forensik Polri. "Saya mewakili keluarga, memang autopsi ini untuk mencari tahu sebab kematian anak saya. Sekarang sudah lega, semua sudah terjawab," kata Bambang.

"Kami ikhlas. Apapun hasil autopsi, kami terima. Kami lega, apa yang jadi pertanyaan kami, keluarga, InsyaAllah terjawab sepenuhnya," tambah dia.

Masih dalam kesempatan itu, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman juga mengatakan, dengan diperolehnya hasil forensik Polri, menjadikan proses penyidikan lebih mudah.

"Dari hsil autopsi ini, kita dapat kesimpulan bahwa anak ini sebab kematiannya karena tenggelam. Ktia juga sudah tahan 2 tersangka yang (lalai), mengakibatkan korban meninggal dunia. Kedua tersangka sebagai guru PAUD yang mengasuh ananda Yusuf," kata Arif.

"Otomatis, dengan begitu, semoga proses penyidikan menjadi lebih lancar. Paling tidak, lebih besar kemungkinan, anak ini meninggal karena tenggelam," pungkasnya. (sumber:merdeka.com)

Editor: redaktur_2

Tags

Terkini

X