Tidak Sependapat dengan JPU, Hakim Vonis Pelaku Cabul 1 Tahun Penjara meski Sudah Berdamai dengan Korban

- Kamis, 26 Mei 2022 | 11:12 WIB
ilustrasi
ilustrasi

HALUANRIAU.CO, ROKAN HILIR - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rokan Hilir yang dipimpin oleh Erif Erlangga sebagai Hakim Ketua, Aldar Valeri, dan Nora masing-masing sebagai Hakim Anggota melaksanakan sidang perkara atas nama JS dengan agenda pembacaan putusan pada Selasa (24/5/ 2022) kemarin.  Pada pokoknya, terdakwa JS terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana membujuk anak melakukan persetubuhan sebagaimana dalam dakwaan tunggal penuntut umum.

"Terdakwa dijatuhkan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan denda sejumlah Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan," kata Majelis Hakim dalam pembacaan amar putusan, tiru Jubir Humas Pengadilan Negeri Rokanhilir Hendrik Nainggolan melalui siaran pers kepada Haluanriau.co pada Rabu, (25/5/2022).

Sebelumnya, penuntut umum mengajukan tuntuntan pidana terhadap JS usai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana membujuk anak melakukan persetubuhan sebagaimana dalam dakwaan tunggal penuntut umum dan terdakwa dijatuhkan pidana penjara selama 9 (sembilan) tahun dan denda sejumlah Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.

Dalam putusan tersebut, Majelis Hakim menyatakan tidak sependapat dengan lamanya pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa, hal ini didasari dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2017 sebagai pedoman pelaksanaan tugas bagi pengadilan pada pokoknya mengatur Majelis Hakim dapat menjatuhkan pidana di bawah minimal dengan pertimbangan khusus.

Baca Juga: Polres Inhil Ciduk Seorang Pengedar Narkoba di Tembilahan Hilir

Ada pun pertimbgan khusus tersebut yakni adanya perdamaian dan tercipta kembali harmonisasi hubungan antara pelaku atau keluarga pelaku dengan korban atau keluarga korban, dengan tidak saling menuntut lagi.

Diketahui pelaku dan korban bahkan sudah menikah, atau perbuatan dilakukan suka sama suka. Hal tersebut tidak berlaku apabila perbuatan dilakukan oleh ayah terhadap anak kandung/tiri, guru terhadap anak didiknya.

Berdasarkan fakta hukum yang terungkap, telah terjadi perdamaian antara terdakwa dengan
anak korban dan keluarga anak korban, dimana terdakwa telah menikah dengan anak korban, lalu dari keterangan anak korban yang bersesuaian dengan keterangan terdakwa diketahui terdakwa dan anak korban sedang dalam hubungan pacaran ketika Terdakwa melakukan perbuatan pidana tersebut. Perbuatan terdakwa yang telah menikahi anak korban tersebut menunjukkan adanya kesadaran terdakwa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap anak korban.

Baca Juga: Tengku Wisnu Berikan Ucapan Selamat Maudy Ayunda dan Jesse Choi, 'Jokes Bapak-Bapak' Jadi Andalan

Halaman:

Editor: Taufik Ilham

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X