Tiga Ahli Hukum Senior Sebut Tuduhan Pidana Berdasarkan Surat Kuasa, Alarm bagi Hukum Pidana

- Minggu, 15 Mei 2022 | 00:20 WIB
Istimewa (Eka/HRC)
Istimewa (Eka/HRC)

HALUANRIAU.CO, KAMPAR - Persidangan dengan terdakwa Ketua Kopsa M, Kampar Riau, yang dikriminalisasi karena memperjuangkan hak 997 petani atas PTPN V dan perusahan perkebunan ilegal PT Langgam Harmuni, memasuki babak akhir, sebelum tuntutan jaksa akan dibacakan.

Sidang yang digelar di PN Bangkinang, Riau pada Kamis, 12 Mei 2022 menghadirkan 2 saksi ahli Hukum Pidana dan 1 saksi ahli Hukum Perdata. Keterangan 3 ahli tersebut menperkuat argumen penasehat hukum yang dalam eksepsi meyakini bahwa kriminalisasi terhadap Dosen UNRI,  H. Anthony Hamzah ini adalah back fire atas kegigihannya membela hak-hak petani dan tidak sah secara hukum.

Dr. Chairul Huda, Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyatakan dakwaan atas Anthony Hamzah yang didasari bukti foto copy tidak berkesesuaian sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP (1). Bahkan menjadi menyesatkan karena menjadikan tulisan foto copy yang tidak diketahui asal usulnya serta tidak ada pembanding aslinya sebagai alat bukti. Hal tersebut jelas melanggar UU yang mengatur secara jelas dan tegas mengenai alat bukti.

Lebih jauh Huda yang juga merupakan Penasehat Ahli Kapolri ini menjelaskan, bahwa seseorang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana, dengan dasar surat kuasa, karena surat kuasa adalah produk hukum yg diatur oleh undang-undang keperdataan. Jika disandingkan dengan pertanggungjawaban pidana, maka tidak mungkin  ada surat kuasa dibuat untuk melakukan tindak pidana. Sehingga pertanggungjawaban pidana terhadap hal melawan hukum, mutlak jatuh terhadap pelaku tindak pidana. Huda yang juga pakar dan anggota Tim Penyusun RKUHP ini mencontohkan bahwa presiden yang memberikan kuasa kepada menteri, kemudian menteri tersebut korupsi, apakah presiden juga harus bertanggung jawab? Kan tentu tidak, terang Huda.

Baca Juga: Gasak Uang Kantor Jutaan Rupiah, Karyawan Sicepat Expres Perawang Mengakui Perbuatannya Dihadapan Polisi

Dalam hubungan antara Anthony Hamzah dengan pelaku perusakan yang sudah divonis sebelumnya, ditanyakan oleh hakim, apakah Antony yang membayar pengacara bisa dikatakan memberikan sarana dan prasarana terhadap tindak pidana? Dijawab dengan tegas oleh Chairul Huda, Tidak. Karena ada unsur esensial yang harus dibuktikan, yaitu inisiatif kedua belah pihak. Antony Hamzah memberikan kuasa kepada orang yang mengaku pengacara, jelas dia sebagai korban penipuan dari orang tersebut. Orang yang ditipu tentu sebelumnya tidak menyadari bahwa dia telah ditipu. Antony Hamzah memberikan kuasa kepada pengacara tentu niat dan maksud dia adalah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sebagaimana keilmuan pengacara bukan premanisme. Sehingga sejak awal pun tidak ada niat/kehendak diri Antony untuk melakukan hal-hal di luar hukum.

Dr. Erdianto, ahli pidana Universitas Riau, juga menerangkan bahwa pelaksanaan hukum pidana akan menjadi membahayakan jika Surat Kuasa yang berarti mandat, dijadikan alat bukti pidana.

Dakwaan turut serta yang dijadikan argumen Jaksa dengan bukti adanya Surat Kuasa jelas salah kaprah. Menurut Erdianto, makna turut serta adalah bahwa pelaku dan penganjur harus sama-sama memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah tindak pidana. Sehingga ada kesadaran penuh bahwa fasilitas yang dia berikan tersebut untuk melakukan tindak pidana. Yang dimaksud pemberian sarana dan prasarana kejahatan adalah, jika tanpa  sarana tersebut maka tidak bisa melakukan kejahatan.

Pemberian uang jasa Kepada penerima kuasa bukanlah bentuk sarana dan prasarana yang dimaksud dalam Hukum Pidana. Sehingga, jika penerima kuasa melakukan tindak pidana, maka pertanggungjawabannya mutlak jatuh kepada penerima kuasa.

Apalagi pada pemeriksaan sebelumnya, Hendra Sakti, terpidana yang pernah menerima Kuasa dari Kopsa M ini, secara tegas menyatakan bahwa tindakannya bukan atas perintah Anthony Hamzah.

Halaman:

Editor: Bilhaqi Amjada A'araf

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X