Ketua Koperasi Iyo Basamo Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Dana, Asep Ruhiat : yang Melapor Bukan Anggota

- Sabtu, 16 April 2022 | 21:42 WIB
 (Istimewa)
(Istimewa)

HALUANRIAU.CO, KAMPAR - Ketua Koperasi Iyo Basamo Hermayalis kembali dihadapkan dengan persoalan hukum. Kali ini ia dilaporkan terkait kasus dugaan penggelapan jabatan dan penggelapan dana anggota koperasi.

Ketua Koperasi Petani Iyo Basamo Desa Terantang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau itu telah dipanggil dua kali oleh penyidik Polda Riau terkait kasus tersebut. Namun Hermayalis tidak hadir  penyidik Polda Riau mengagenda undangan klarifikasi sekali lagi.

Hal itu dikatakan Kuasa Hukum anggota Koperasi Iyo Basamo Yusmar, Iskandar Halim Jumat (15/4/2022) kemarin dalam keterang tertulisnya. Dikatakan Iskandar kliennya itu merupakan anggota kelompok tani dan juga penerima kuasa dari 99 kelompok tani Koperasi Iyo Basamo yang diduga telah dirugikan oleh Hermayalis sebagai ketua koperasi pada saat itu.

"Seluruh kerugian yang ditanggung oleh anggota koperasi Rp6,7 miliar. Modusnya Hermayalis merugikan kelompok tani tidak membayar gaji atau hasil sawit anggota kelompok tani. Setiap masing- masing anggota koperasi seharusnya mendapatkan gaji atau hasil dari sawit Rp300 ribu hingga Rp700 ribu setiap bulan, tapi sudah 10 tahun hingga 12 tahun anggota kelompok tani tidak menerima gaji atau hasil sawit," kata Iskandar.

Baca Juga: Komisi III F-PD Minta APH Tangkap Penyebar Hoaks dan Pelaku Ujaran Kebencian yang Sudutkan Demokrat

Merasa dirugikan kata Iskandar kliennya itu sudah melaporkan Hermayalis ke Polda Riau dengan Laporan Polisi LP/B/54/I/2022/SPKT/POLDA RIAU, pada 26 Januari 2022 dan sudah ada diperiksa korban dan saksi - saksi.

"Penyidik telah membuat SP2HP pada tanggal 6 April 2022, kita sayangkan penyidik menemukan hambatan 6 orang anggota kelompok petani iyo basamo telah 2 kali di undang untuk klarifikasi namun tidak hadir demikian juga terlapor ketua koperasi iyo basamo dan bendahara tidak memenuhi undangan klarifikasi serta 10 orang anggota kelompok tani lainnya juga tidak hadir, atas ketidak hadiran mereka penyidik Polda Riau melakukan panggil kedua kalinya," ucap Iskandar.

"Kami juga minta agar penyidik memanggil pihak PTPN V sebagai bapak angkat koperasi yang mana hasil kebun sawit di kirim ke pabrik kelapa sawit di Sungai Pagar Kabupaten Kampar dan juga Bank Bukopin sebagai bank penampung uang hasil sawit yang dijual oleh terlapor," tambahnya.

Iskandar menuturkan, luas kebun sawit milik anggota koperasi petani iyo basamo itu seluas lebih kurang 425 haktar yang sekarang di jaga ketat oleh preman yang di gaji oleh terlapor. Preman tersebut mendapatkan bayaran lebih kurang sebesar 80 juta per bulan, dan bahkan para korban tidak diperbolehkan melihat kebun mereka sendiri, jangankan melihat kebun sawit tersebut, untuk memancing ikan di sungai yang ada dilokasi kebun pun mereka di usir oleh preman bayaran tersebut.

Halaman:

Editor: Taufik Ilham

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X