Petinggi Fikasa Group Minta Hakim Bebaskan Mereka, Ini Alasannya

- Kamis, 10 Maret 2022 | 22:15 WIB
Sidang perkara surat utang atau promissory note dengan terdakwa empat petinggi Fikasa Group (Dodi/HRC)
Sidang perkara surat utang atau promissory note dengan terdakwa empat petinggi Fikasa Group (Dodi/HRC)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Empat terdakwa perkara surat utang atau promissory note Fikasa Group menyampaikan nota pembelaan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (10/3). Dalam pledoinya, terdakwa menyoroti keputusan saksi korban yang melaporkan persoalan ini ke penegak hukum.

"Archenius Napitupulu cs selama bertahun-tahun menikmati bunga uangnya. Ketika mereka mendapatkan untung dari bunga, mereka tak laporkan kami ke polisi. Setelah mendapatkan bunga, mereka lalu melaporkan kami ke polisi untuk dijerat pidana. Padahal, perjanjian utang piutang lewat promissory note itu dibuat dengan kesepakatan bersama secara perdata," ujar salah seorang terdakwa Agung Salim dalam surat pledoinya.

Agung Salim adalah Komisaris Utama PT Wahana Bersama Nusantara (WBN). Selain dia, ada terdakwa lainnya, yaitu Bhakti Salim selaku Direktur Utama PT WBN dan Direktur Utama PT Tiara Global Propertindo (TGP), Elly Salim Direktur PT WBN dan Komisaris PT TGP, dan Christian Salim selaku Direktur PT TGP.

Agung menjelaskan soal jenis bisnis dan usaha Fikasa Group yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an. Dalam pengembangan usaha itu, Fikasa Group melalui dua anak perusahaan yakni PT WBN dan PT TGP menerbitkan surat utang dalam perjanjian promissory notes dengan imbal balik bunga yang disepakati bersama.

Hingga awal 2020, PT WBN dan PT TGP tak pernah molor dalam membayar imbal balik bunga pinjaman kepada pemegang promissory notes. Praktis, para pelapor telah menerima imbalan sesuai perjanjian yang sudah disepakati bersama.

Baca Juga: SE Penerbangan Tanpa PCR dan Antigen Sudah Berlaku, Plt Kadiskes: Penyebaran Covid-19 Akan Semakin Rentan

Namun sejak datangnya pandemi Covid-19 di awal 2020 lalu, hampir seluruh sektor usaha mengalami pukulan hebat. Dalam kondisi perekonomian yang sangat berat ini, perusahaan tak bisa bertahan cukup lama menghadapi gejolak ekonomi pandemi yang berkepanjangan. Pendapatan usaha yang minim telah menyebabkan gagalnya perusahaan menunaikan kewajiban pembayaran bunga promissory notes.

Agung menegaskan bahwa seluruh pinjaman dari pemegang promissory notes dipakai semuanya untuk pengembangan dan perluasan usaha Fikasa Grup.

"Tidak ada perusahaan yang fiktif. Dana yang kami pinjam murni untuk kepentingan usaha yang tergabung di Fikasa Grup," kata Agung.

Dalam perkara itu, keempatnya dituntut pidana selama 14 tahun penjara. Selain itu, mereka juga diwajibkan membayar denda masing-masing Rp20 juta subsidair 11 bulan kurungan. Sejumlah barang bukti juga turut dirampas untuk mengganti kerugian yang dialami para saksi korban, sebesar Rp84.916.000.000.

Halaman:

Editor: Bilhaqi Amjada A'araf

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Polri Tahan Irjen Ferdy Sambo di Mako Brimob

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 22:17 WIB
X