Wanita Sri Lanka 'Jual Diri' Demi Hidup di Kebankrutan Negara

- Kamis, 21 Juli 2022 | 14:33 WIB
Ilustrasi kehidupan malam (Alexander Popov)
Ilustrasi kehidupan malam (Alexander Popov)

HALUANRIAU.CO, SRI LANKA - Kebankrutan negara Sri Lanka membuat masyarakatnnya jatuh dan hidup dalam kemiskinan.

Dilansir dari The Morning yang dikutip dari detik, kebangkrutan banyak masyarakat di Sri Lanka kini hidup dalam ketakutan akan kehilangan pekerajaan maupun pemutusan hubungan kerja selama krisis dan hal tersebut tidak hanya dialami oleh kaum pria, namun juga kaum wanita.

Masyarakat Sri Lanka sendiri mayoritas bekerja di sektor industri tekstil, dimana hingga saat ini negara tersebut telah kehilangan sebanyak 10-20% pesanan.

Salah satu pekerja perempuan yang dikutip dari The Morning mengatakan bahwa jalan terakhir yang mereka lihat untuk keluar dari krisis kebutuhan akan makanan serta obat-obatan adalah dengan menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

"Kami mendengar bahwa kami dapat kehilangan pekerjaan karena krisis ekonomi di negara ini," kata salah satu pekerja dikutip The Morning."Dan solusi terbaik yang dapat kami lihat saat ini adalah pekerja seks," ungkapnya.

Baca Juga: Shin Tae-yong Butuh Pemain Naturalisasi di 4 Posisi untuk Piala Dunia U-20

Dirinya mengungkapkan perbandingan yang ia dapat ketika menjadi PSK dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya dan mereka menerima kenyataan tersebut walau tidak semua orang akan setuju padanya.

"Gaji bulanan kami sekitar Rs 28.000 (Rp1,1 juta) dan maksimum yang bisa kami peroleh adalah Rs. 35.000 (Rp1,4 juta) dengan lembur," tambahnya.

"Tapi melalui terlibat dalam pekerjaan seks, kami bisa mendapatkan lebih dari Rs. 15.000 (Rp624 ribu) per hari. Tidak semua orang akan setuju dengan saya, tapi inilah kenyataannya," jelas sumber itu lagi.

Menurut Stand Up Movement Lanka (SUML) yang merupakan kelompok advokasi PSK setempat mengatakan bahwa jumlah wanita yang terjun ke industri esek-esek di ibu kota Sri Lanka, Kolombo sendiri terus meningkat dimana hingga saat ini telah mencapai 30.

"Para wanita ini sangat putus asa untuk menghidupi anak-anak mereka, orang tua atau bahkan saudara mereka dan pekerjaan seks adalah salah satu dari sedikit profesi yang tersisa di Sri Lanka yang menawarkan banyak keuntungan dan uang cepat," kata Direktur Eksekutif SUML, Ashila Dandeniya.

Mengutip laman yang sama, perdagangan seks berkembang pesat di lokasi yang dekat Bandara Internasional Bandaranaike Kolombo. Wilayah itu diduga berada di bawah perlindungan dan peraturan polisi, di mana banyak wanita dipaksa tidur dengan petugas oleh nyonya rumah bordil sebagai pengganti "keamanan".

Sementara laporan juga menyebutkan bahwa para wanita tersebut dipaksa untuk melakukan hubungan seks yang tidak aman atas desakan klien mulai dari akademisi hingga anggota mafia. Mereka tidak memiliki pilihan lain karena pekerjaan di bidang pertanian juga telah menyusut tajam.

Halaman:

Editor: Bilhaqi Amjada A'araf

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nekat Merokok di Singapura, Jutaan Rupiah Bisa Melayang

Kamis, 29 September 2022 | 19:50 WIB

Taiwan akan Akhiri Karantina Covid-19

Kamis, 29 September 2022 | 19:30 WIB

Topan Noru Menuju Vietnam, Warga Dievakuasi

Selasa, 27 September 2022 | 17:56 WIB

Topan Nanmadol Landa Jepang, 2,9 Juta Warga Dievakuasi

Minggu, 18 September 2022 | 15:59 WIB

150 Ekor Kucing di China Gagal 'Disantap'

Rabu, 31 Agustus 2022 | 19:11 WIB

Presiden UMNO: Ini Tuduhan Bermotif Politik

Senin, 29 Agustus 2022 | 20:59 WIB

Banjir Pakistan Tewaskan Hampir 1000 Orang

Minggu, 28 Agustus 2022 | 19:30 WIB

IMF Kunjungi Sri Lanka, Bahas Paket Bailout

Kamis, 25 Agustus 2022 | 21:02 WIB

Mantan Imam Masjidil Haram Divonis 10 Tahun Bui

Rabu, 24 Agustus 2022 | 19:12 WIB

Prancis Tolak Klaim Mali Persenjatai Pejuang Islam

Kamis, 18 Agustus 2022 | 21:05 WIB
X