Profesor UCLA Ungkap Kasus Laki-laki Diperkosa Perempuan Ternyata jadi Fenomena Tersendiri

- Kamis, 16 September 2021 | 17:53 WIB
Ilustrasi korban pelecehan seksual dan perundungan. (Pixabay/Wokandapix)
Ilustrasi korban pelecehan seksual dan perundungan. (Pixabay/Wokandapix)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Kekerasan dan pelecehan seksual kerap kali menimpa korban perempuan atau orang yang termarjinalkan seperti queer. Namun, sejatinya pelecehan seksual tak mengenal jenis kelamin atau gender, ia bisa menghantui siapa saja dan menerkamnya, termasuk pria.

Profesor Hukum University of California Los Angeles (UCLA), Lara Stemple sejak lama bergelut di persoalan pelecehan seksual yang dialami pria. menurutnya, kasus pelecehan seksual yang dialami pria tidak dilaporkan ke aparat hukum.

Pada 2014, Stemple merilis sebuah esai yang menjelaskan konteks berbagai survei nasional seputar kekerasan seksual terhadap pria. Hasilnya menyajikan apabila muncul kasus di mana pria "dipaksa melakukan penetrasi" terhadap orang lain ikut dihitung dalam statistik, maka jumlah korban kekerasan seksual antara pria dan wanita sesungguhnya hampir sama.

Baca Juga: Menkes Ungkap Covid Varian Asal Indonesia dan Imbau Bahayanya

Ada 1,267 juta pria yang mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual, sedangkan bagi wanita, 1,270 juta mengaku pernah diperkosa di Amerika Serikat sendiri.

Tentu saja tindakan seperti itu, meski tak tergolong jenis pelecehan seksual yang umum, bisa berefek negatif yang menyasar keadaan mental dan pdikologis korban.

Stemple menegaskan stereotip bahwasanya wanita tidak bisa melakukan kekerasan dan pelecehan seksual itu salah besar. Kendati, masyarakat hidup di lingkungan yang sangat patriarkal, namun wanita sebagai pelaku pelecehan itu memungkinkan.

"Orang mengira wanita pelaku kekerasan seksual itu sangat jarang," kata Stemple.

"Mereka kira itu kebetulan saja—semacam kasus guru wanita mengajak murid lelaki berhubungan badan di beberapa SMA Amerika Serikat. Sebetulnya wanita pelaku kekerasan seksual ada banyak menurut survei ini. Ajaibnya, kebanyakan orang tidak tahu hal ini," tuturnya.

Baca Juga: Jalani Sidang Gugatan KSP Moeldoko, Demokrat: Bukti yang Diberikan di Pengadilan Tidak Nyambung!

Berdasarkan penelitian Stemple, ada beberapa faktor memicu pria sulit atau enggan melaporkan pelecehan dan kekerasan seksual yang menimpanya, kebanyakan karena buah pemikiran maskulinitas di mana pria takut dianggap 'lemah'.

Stemple melanjutkan, banyak dari mereka berbohong dan mengatakan bahwa mereka dilecehkan pria lain. Beberapa juga terpaksa mengisahkan cerita mereka seakan-akan waktu itu mereka hanya sedang "labil" saja.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pria dewasa yang menjadi korban kekerasan seksual cenderung lebih disalahkan dibanding korban perempuan untuk kejahatan yang sama.

"Saya bertemu seorang pria yang pernah dilecehkan wanita ketika masih kecil," kata Stemple.

"Sampai saat ini, dia masih takut berduaan dengan seorang wanita di ruangan yang sama. Anda bisa bayangkan, hal semacam ini pasti sangat tidak nyaman diceritakan. Dia takut orang akan mempermalukannya," kisahnya.

"Sekarang dia sudah bisa menceritakan pengalamannya sebagai seseorang yang 'selamat' dari pelecehan seksual. Namun pria seperti ini jarang. Kebanyakan pria yang menjadi korban sangat takut untuk mengaku, apalagi kalau mereka dilecehkan wanita," pungkas Stemple.

Halaman:

Editor: Bagus Pribadi

Sumber: VICE.ID

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Artis Amyon Rilis Single Terbaru Berjudul 'Heart'

Jumat, 12 November 2021 | 17:44 WIB
X