Tersangka Kekerasan Anak di Pelalawan Lepas dari Tuntutan Pidana, Ini Alasannya

- Selasa, 7 September 2021 | 18:01 WIB
Saat berlangsungnya ekspos pemberhentian perkara. (halunariau.co/Dodi Ferdian)
Saat berlangsungnya ekspos pemberhentian perkara. (halunariau.co/Dodi Ferdian)

HALUANRIAU.CO, PELALAWAN - Seorang pria berinisial MG patut bersyukur setelah Kejaksaan Negeri Pelalawan memastikan penanganan perkara yang menjeratnya tidak berlanjut ke meja hijau. Pria 21 tahun itu lepas dari tuntutan pidana melalui mekanisme restorative justice.

"Pada hari ini, kami telah menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif perkara kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh tersangka MG," ujar Kepala Kejari (Kajari) Pelalawan, Silpia Rosalina melalui Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum (Pidum), Riki Saputra, Selasa (7/9/2021).

Dikatakan Riki, proses RJ tersebut dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Yakni, berdasarkan Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

MG merupakan tersangka dugaan kekerasan terhadap anak korban berinisial ISP. Perkara ini sebelumnya ditangani Polsek Pangkalan Kerinci.

Baca Juga: Kajari Siak Edukasi Camat dan Kades di Sungai Mandau terkait Penggunaan Dana Desa

Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P-21, proses berikutnya adalah pelimpahan tersangka dan barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Tahap II itu dilakukan pada Kamis (26/8/2021) lalu.

"Setelah tahap II, Ibu Kajari menerbitkan Surat Perintah untuk memfasilitasi proses perdamaian berdasarkan keadilan restoratif kepada Tim JPU," sebut mantan Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Badung, Provinsi Bali itu.

Menindaklanjuti surat perintah itu, Tim JPU memediasi tersangka MG dan anak korban ISP yang masih berusia 17 tahun. Saat mediasi tersangka dan anak korban didampingi orang tuanya masing-masing.

"Hasilnya para pihak sepakat untuk melakukan perdamaian dengan syarat berupa penggantian biaya pengobatan kepada anak korban," lanjut Riki.

Lalu, pihaknya melakukan ekpose untuk permintaan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau dan Kejaksaan Agung, Jumat (3/9) kemarin. "Pengajuan permintaan penghentian penuntutan tersebut disetujui oleh JAM Pidum Kejaksaan RI," ungkap Riki mengakhiri.

Halaman:

Editor: Bagus Pribadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Penemuan Mayat di Pelalawan, Polisi Tunggu Hasil Autopsi

Senin, 20 September 2021 | 16:08 WIB

RAPP Fasilitasi Lebih 12 Ribu Vaksin Gotong Royong

Selasa, 10 Agustus 2021 | 08:53 WIB

Perdana, Guru MAN 1 Pekanbaru Raih Gelar Doktor

Minggu, 8 Agustus 2021 | 16:57 WIB
X