Taja BIJAK Melayu, Pijar Melayu Usung Tema Strategi Pengembangan Kelapa Sawit di Provinsi Riau

- Selasa, 21 Desember 2021 | 23:13 WIB
Diskusi yang ditaja Pijar Melayu
Diskusi yang ditaja Pijar Melayu

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Pijar Melayu sukses menaja Bincang Jujur Anak Kemenakan (BIJAK) Melayu, Selasa (21/12). Kali ini, Pijar Melayu mengusung tema 'Strategi Pengembangan Industri Kelapa Sawit Demi Mempertahankan Eksistensi CPO di Pasar Dunia' dalam kegiatan tersebut.

Rocky Ramadani dalam sambutannya menyampaikan harapan agar diskusi ini menghasilkan rekomendasi untuk kesejahteraan masyarakat Riau, dan merupakan upaya dalam melawan kampanye hitam tentang kelapa sawit.

"Bila CPO tetap eksis di pasar dunia, tentunya akan berdampak pada nilai harga jual sawit. Bila harga jual sawit meningkat tentunya kesejahteraan ekonomi masyakarat akan meningkat pula," ujar Direktur Eksekutif Pijar Melayu itu dalam kegiatan yang digelar di salah satu hotel di Kota Pekanbaru.

Sementara itu, perwakilan dari Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Defris Hatmaja menyampaikan, peran pihaknya adalah pada supervisi perusahaan perkebunan dan pabrik sawit. Hal ini bentuk dukungan dan keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dalam mengatur strategi pengembangan industri kelapa sawit.

Di tempat yang sama, Jonli menyampaikan terkait ketenagakerjaan di perkebunan kelapa sawit. Dia mengatakan, jika ditemukan adanya pekerja di bawah umur maka perusahaan wajib melaporkan ke pihaknya.

"Pekerja wajib memiliki kartu identitas atau KTP. Karena Buruh Harian Lepas (BHL) rentan menjadi korban eksploitasi kerja. Oleh karena itu dari Kemenaker sendiri berprinsip bahwa Indonesia bebas dari pekerja anak," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Riau itu.

Dalam kegiatan itu, sejumlah pihak lainnya turut menyampaikan pandangannya. Seperti dari DPW Apkasindo Riau, Jono M Burhan, akademisi Dr Azharuddin, dan Pinbag Kredit Program MKM Bank Riau Kepri (BRK) Al Fikri Jamil.

Ketua Umum FKPMR Dr Chaidir menanggapi pemaparan para narasumber tersebut. Dia berharap agar diskusi ini menghasilkan solusi.

"Karena 64 persen minyak nabati itu dari kelapa sawit, dan Indonesia adalah penyumbang terbesar untuk itu. Dengan peningkatan B20 menjadi B30 mampu membentuk hilirisasi pengembangan tanaman sawit menjadi lebih optimal. Akan tetapi perlu juga ditingkatkan industri di dalam negeri terlebih dahulu," kata Chaidir dalam kegiatan yang turut dihadiri dari perwakilan Karang Taruna Provinsi Riau itu.

Editor: Dodi Ferdian

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Budidaya Tanaman Cabe Pelangi bagi Pemula

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Harga TBS Sawit Turun Rp50,68 per Kg

Rabu, 12 Februari 2020 | 13:11 WIB

Harga CPO Mulai Bangkit

Rabu, 5 Februari 2020 | 08:50 WIB

2020, Dana Pungutan Sawit Diinvestasikan di SUN

Senin, 20 Januari 2020 | 11:12 WIB
X