Komisi Uni Eropa Mengancam Keberlangsungan Ekspor CPO, Moeldoko: Eropa Masih Butuh Sawit dari Indonesia

- Selasa, 9 November 2021 | 15:51 WIB
ilustrasi buah kelapa sawit. (Pixabay/tristantan)
ilustrasi buah kelapa sawit. (Pixabay/tristantan)

HALUANRIAU.CO, NASIONAL - Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Eropa pada tahun 2020 alami kenaikan 26 persen.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan. Menurutnya, kelapa sawit menjadi bahan baku biofuel.

Dikutip dari Indozone, Moeldoko mengatakan bahwa saat ini Uni Eropa telah menerapkan standar tinggi dan ketat dalam membeli produk dari negara lain, bukan hanya pada kelapa sawit, tapi juga komoditas lain.

"Salah satu standar yang dipakai apakah produk atau komoditas tersebut memberikan dampak pada kerusakan lingkungan atau tidak. Nah, ini yang harus menjadi perhatian semua, termasuk para petani sawit," ujar Moeldoko, Senin (8/11).

Baca Juga: Bank BJB Ekspor 6 Produk Debitur ke Australia, Kanada, dan Eropa

Pada kesempatan berbeda, Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket mengatakan bahwa negara-negara Uni Eropa berambisi menjadi benua netral iklim pada tahun 2050, dan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 55 persen pada tahun 2039

"Ada perubahan aturan-aturan yang diprediksi akan memperketat, atau bahkan melarang masuknya produk yang tidak ramah lingkungan ke Eropa. Oleh karena itu, Indonesia memproduksi komoditas-komoditas yang diekspor ke Eropa dengan lebih berkelanjutan," kata Vincent.

Menyikapi aturan tersebut, Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung menyatakan bahwa petani sawit di Indonesia sudah mengedepankan keberlanjutan, baik dari sisi ekonomi, ekologi, maupun sosial.

"Sebanyak 42 persen petani di 22 provinsi di Indonesia harus berkelanjutan dalam mengelola sawit sesuai dengan aturan yang ada pada UU Cipta Kerja," kata Gulat.

Halaman:

Editor: Taufik Ilham

Sumber: Indozone.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X