Permigastara Terbentuk, Berupaya Tingkatkan Alokasi Energi Baru dan Terbarukan Menjadi 30 Persen

- Rabu, 3 November 2021 | 01:25 WIB
Sekjen Permigastara John Peiter Simanjuntak (kiri), Ketua Dewan Penasehat Ivan Pandopatan Purba (tengah) dan Ketua Umum Peri Akri (kanan) saat diskusi bersama awak media
Sekjen Permigastara John Peiter Simanjuntak (kiri), Ketua Dewan Penasehat Ivan Pandopatan Purba (tengah) dan Ketua Umum Peri Akri (kanan) saat diskusi bersama awak media

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Perkumpulan Pengusaha Migas Energi Baru dan Terbarukan Nusantara baru saja terbentuk. Perkumpulan ini berupaya meningkatkan alokasi peran energi baru dan terbarukan yang saat ini baru 15 persen menjadi 30 persen.

Hal itu terungkap dari diskusi yang dilakukan Permigastara bersama sejumlah awak media di suatu tempat di Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru, Selasa (2/11). Kegiatan itu sekalian untuk memperkenalkan Permigastara di Kota Pekanbaru.

Dalam diskusi itu terungkap semangat nasionalisasi aset pertambangan minyak dan gas di Indonesia ternyata tak sebanding dengan produktivitas minyak fosil nasional. Masa emas ketika Indonesia mampu menyedot jutaan barel minyak mentah dari perut bumi takkan pernah terulang.

Bahkan belakangan, impor minyak mentah ke Indonesia makin meningkat di saat perusahaan minyak yang dulunya dikuasai asing dikelola oleh Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina).

Ketua Dewan Penasehat Permigastara Ivan Pandopatan Purba mencontohkan pengelolaan Blok Rokan oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) beberapa waktu lalu. Di satu sisi, Riau patut bangga karena minyaknya akan dikelola oleh negara dengan harapan dana bagi hasil Migas makin meningkat.

Namun di sisi lain, produktivitas minyak di daerah yang meliputi Rokan Hilir, Siak, Bengkalis dan Kota Dumai itu saat ini hanya 176 ribu barel per hari. Angka yang jauh dari masa keemasan karena blok ini pernah mencapai angka 1,5 juta barel per hari.

Menurut Ivan, PHR memang berencana meningkatkan produksi hingga 300 ribu per hari. Hanya saja butuh biaya besar mewujudkannya ditambah lagi kebutuhan sumber daya manusia memadai.

Tak hanya itu, peralihan pengelola di Blok Rokan juga membutuhkan masa transisi. Karyawan PT Chevron Pasifik Indonesia melebur ke PHR sehingga membutuhkan penyesuaian.

"Ada dua budaya, yaitu mantan karyawan PT Chevron yang biasa bekerja efisien dengan budaya Pertamina," ujar Ivan.

Oleh karena itu, Ivan menyatakan di sanalah peran Permigastara hadir. Bagaimana transisi dan produksi minyak meningkatkan dengan sinergitas pemerintah daerah sebagai yang punya wilayah.

Halaman:

Editor: Dodi Ferdian

Tags

Terkini

AHASS Bagi-bagi Voucher untuk Honda Kesayangan

Kamis, 20 Januari 2022 | 18:24 WIB

MODENA Customer Care Siap Sedia 365 Hari

Rabu, 19 Januari 2022 | 22:55 WIB

Capella Honda Sambut Tahun Baru dengan Kemilau

Rabu, 12 Januari 2022 | 21:00 WIB

Komunitas HCCI Jelajah Alam Riau dengan Honda CRF150L

Selasa, 11 Januari 2022 | 14:29 WIB

UNRI Siap Dukung Program PHR

Kamis, 23 Desember 2021 | 17:10 WIB
X