Harga Minyak Kembali Turun, Kekhawatiran Prospek Permintaan Minyak Meningkat

- Selasa, 7 September 2021 | 11:05 WIB
Ilustrasi kilang minyak  |  Sumber: Alex Simpson on Unsplash
Ilustrasi kilang minyak | Sumber: Alex Simpson on Unsplash

HALUANRIAU.CO, BISNIS - Pada perdagangan hari Selasa (7/9/2021) harga minyak mentah kembali turun.

Penurunan tersebut seiring dengan penurunan Arab Saudi atas harga kontrak minyak mentah untuk kawasan Asia.

Penurunan tajam Arab Saudi tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran atas prospek permintaan minyak.

Untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka Brent melemah 39 sen, menjadi menetap di 72,22 dolar AS per barel.

Baca Juga: Tolak Rencana Kenaikan Tarif Cukai Rokok di 2022, Serikat Buruh: Baiknya Cari Sumber Penerimaan Lain

Sementara untuk pengiriman Oktober, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 40 sen menjadi 68,89 dolar AS per barel.

Melalui sebuah pernyataan, kelompok perusahaan minyak milik negara Saudi Aramco akan memotong harga jual resmi (OSP) Oktober untuk semua kadar minyak mentah yang dijual ke Asia, wilayah pembelian terbesarnya, setidaknya 1 dolar AS per barel.

Jajak pendapat Reuters dari para penyuling minyak Asia menyebutkan, pemotongan harga itu lebih besar dari yang diperkirakan.

"Ketika raksasa Saudi memangkas harga jualnya ke Asia untuk Oktober, menandakan bahwa hubungan penawaran-permintaan sedikit bergeser, para pedagang tidak bisa tidak mengikuti jalan itu hari ini," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy.

Baca Juga: Lama Tak Terdengar, Legenda Timnas Brazil 'Pele', Ternyata Menjalani Operasi di Rumah Sakit, Sakit Apa ?

Pasokan minyak global meningkat setelah OPEC+ meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan antara Agustus dan Desember. Berita ini dikutip dari suaramerdeka.com dengan judul Harga Minyak Kembali Turun Seiirng Penurunan Tajam Kontrak Arab Saudi.

"Mengingat OPEC+ melanjutkan rencananya untuk meningkatkan produksi bulanan, meskipun data lemah dari China dan AS meningkatkan kekhawatiran perlambatan serta Arab Saudi mencari pangsa pasar di kawasan itu, minyak kemungkinan akan tetap di bawah tekanan," kata Jeffrey Halley, analis pasar senior untuk Asia Pasifik di broker OANDA.

Penurunan harga minyak mentah berjangka menambah kemerosotan pada hari Jumat (3/9) setelah laporan pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan pemulihan ekonomi tidak merata, yang dapat berarti permintaan bahan bakar lebih lambat selama kembangkitan kembali dari pandemi.

Sekitar 1,5 juta barel per hari produksi minyak di Teluk Meksiko masih ditutup setelah Badai Ida, Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan mengatakan pada hari Senin (6/9). Produksi gas alam 1,8 miliar kaki kubik per hari lainnya juga ditutup.

Baca Juga: Mengakau Dapat Dukungan dari Kantor Staf Presiden, MPR Gagas Petisi Batalkan Kartu Vaksin

Badai Ida juga menyebabkan perusahaan-perusahaan energi AS memangkas jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam lima minggu, data dari Baker Hughes menunjukkan pada hari Jumat (3/9). Jumlah rig minyak pekan lalu mencatat penurunan terbesar sejak Juni 2020.***(Andika Primasiwi/suaramerdeka.com)

Editor: Taufik Ilham

Sumber: Suara Merdeka

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pahami Dulu: Cara Menghitung Target Penjualan

Rabu, 20 Oktober 2021 | 18:37 WIB

Pahami Dulu: Cara Menghitung Harga Jual Produk

Rabu, 20 Oktober 2021 | 18:23 WIB

Pahami Dulu: Cara Membuat Anggaran Usaha

Rabu, 20 Oktober 2021 | 17:59 WIB

Pahami Dulu: Cara Menghitung Modal Usaha

Rabu, 20 Oktober 2021 | 17:40 WIB

Tunjukkan Tren Positif, Harga CPO Naik Tajam

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:41 WIB

Lagi-Lagi Harga Kelapa Sawit di Riau Naik!

Selasa, 19 Oktober 2021 | 17:17 WIB
X