Mencuri Karena Anak Kelaparan, IRT di Rohul Bakal Jalani Hukuman Percobaan

- Rabu, 3 Juni 2020 | 18:46 WIB
Asintel Kejati Riau Raharjo Budi Kisnanto memperlihatkan salinan petikan putusan terhadap Rica Marya, IRT yang mencuri tandan buah segar milik PTPN V di Rohul, Rabu (3 Juni 2020)
Asintel Kejati Riau Raharjo Budi Kisnanto memperlihatkan salinan petikan putusan terhadap Rica Marya, IRT yang mencuri tandan buah segar milik PTPN V di Rohul, Rabu (3 Juni 2020)

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU - Meski dinyatakan bersalah, Rica Marya tidak perlu menjalani pidana kurungan. Ibu rumah tangga 31 tahun yang tertangkap tangan mencuri tiga tandan buah sawit di perkebunan PTPN V itu hanya menjalani masa percobaan selama dua bulan.

Dikatakan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau Budi Raharjo Kisnanto, warga Rokan Hulu (Rohul) itu dinyatakan bersalah melanggar Pasal 354 KUHP. Vonis itu disampaikan dalam persidangan cepat yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pasir Pangaraian, Selasa (2/5) kemarin.

"Dalam hal ini sudah disidangkan dan dengan putusan nomor 43/pid.c/2020/pn atas nama Rica Marya Br Simatupang dijatuhi pidana penjara tujuh hari karena terbukti melakukan pencurian pidana ringan," ujar Raharjo dalam keterangan persnya di Kantor Kejati Riau, Rabu (3/6).

Kendati begitu, ibu tiga anak itu tidak perlu menjalani masa tahanan. Namun jika selama masa percobaan selama dua bulan ibu tiga anak itu melakukan atau terlibat tindak pidana maka putusan bisa di atas bisa diterapkan.

Lebih jauh, Raharjo menjelaskan jika kasus yang menjerat Rica terjadi pada 31 Mei 2020 lalu. Kasus itu berawal saat Rica bersama kedua temannya tertangkap tangan oleh sekuriti saat mencuri buah sawit di areal PTPN V Kebun Sei Rokan, Kabupaten Rohul.

Namun, dua rekan Rica berhasil kabur, sementara Rica ditangkap dan langsung digelandang ke Mapolsek Tandun. Sekuriti PTPN V pun kemudian melaporkan Rica dengan tuduhan pencurian tiga tandan buah sawit dengan kerugian Rp76.500.

"Yang bersangkutan terjerat tindak pidana ringan karena nilai kerugian di bawah Rp2,5 juta. Untuk itu, proses penyidikan dilakukan dengan skema acara pemeriksaan cepat atau APC," sebut Raharjo.

Dalam skema APC, dia mengatakan penyidik kepolisian tidak melibatkan Jaksa dalam pelimpahan berkas ke Pengadilan setempat. "Jadi penyidik langsung melimpahkan berkas perkara ke pengadilan untuk langsung di sidang. Jaksa hanya menerima dan melakukan putusan hakim," beber mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Semarang itu.

Dalam perkara ini, dia mengatakan Kejaksaan Negeri (Kejari) Rohul hanya berperan sebagai eksekutor. Artinya, Korps Adhyaksa lah yang akan memantau masa percobaan selama dua bulan terhadap Rica. Jika selama dua bulan dia terlibat pidana kembali, maka Rica bisa langsung dieksekusi untuk ditahan selama tujuh hari.

Kisah Rica sebelumnya menjadi sorotan setelah dia mengaku nekat mencuri tandan buah sawit karena ketiga anaknya yang masih di bawah lima tahun merengek kelaparan. Sementara, dia tidak lagi memiliki beras. Pada saat kejadian, Junaidi, suami Rica yang merupakan buruh kebun disebut tidak lagi berada di rumah. Rica pun mengaku kalut dan nekat mencuri sawit untuk mencuri beras.

Polisi sejatinya telah berusaha untuk memediasi kasus itu agar berujung damai. Namun, sekuriti perusahaan disebut tetap bersikukuh untuk melanjutkan kasus itu hingga bergulir ke pengadilan. Foto-foto Rica bersama tiga anaknya yang tengah menunggu sidang pun sebelumnya sempat viral di media sosial.

 

 

Reporter: Dodi Ferdian

Editor: Eka Buana Putra

Terkini

Imam Mushola Cabuli Gadis 12 Tahun Hingga 2 Kali

Sabtu, 27 November 2021 | 14:36 WIB

Sempat Tertunda, Velove Vexia Resmi Lepas Masa Lajang

Selasa, 23 November 2021 | 20:29 WIB

KPK Kembali Galakkan Pencarian Harun Masiku

Selasa, 16 November 2021 | 14:50 WIB
X