Pemilik Pabrik Nata de Coco di Kampar Bakal Surati Dewan Pers, Ini Penyebabnya

- Minggu, 1 November 2020 | 12:25 WIB
IMG-20201101-WA0001
IMG-20201101-WA0001

HALUANRIAU.CO, BANGKINANG - Hutomo Lim membantah tudingan sejumlah media yang menyudutkan usaha yang dikelolanya. Atas hal itu, dia berencana akan melaporkan hal tersebut ke Dewan Pers.

"Saya tidak ambil hak jawab di media itu. Saya akan menyurati Dewan Pers untuk mendiskusikan apakah yang dilakukan media itu melanggar kode etik. Saya juga akan tunjukan screenshot (tangkapan layar,red) percakapan yang tidak layak," ujar Hutomo Lim, Minggu (1/11).

Hutomo Lim adalah pemilik industri rumahan pengolahan bahan baku nata de coco di Jalan Lembah Damai, Desa Pandau Permai, Kampar. Usaha tersebut, menurut sejumlah media, diduga tidak mengantongi izin dan pengelolaannya dilakukan tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).


Atas hal itu, dia memberikan penjelasannya. Dikisahkannya, pemberitaan miring itu bermula dari kedatangan dua oknum wartawan ke pabrik miliknya pada Selasa (27/10) lalu. Saat itu, sang oknum mengambil gambar dan video tanpa seizinnya. Kebetulan saat itu Hutomo Lim tengah berada di Jakarta.


"Mereka kemudian meminta nomor HP saya ke karyawan saya dengan terkesan memaksa. Mereka lalu menghubungi saya, dan sempat terjadi perbedaan pendapat," sebut dia.


Menurut dia, oknum wartawan itu terkesan kasar dan diduga memiliki niat tak baik. Atas hal itu, pihaknya memilih untuk tidak terlalu menggubris.


"Saya sangat menghormati kebebasan pers. Tapi ini lain persoalan, karena orang yang datang ke kita pakai cara kasar. Tentu saya merasa terganggu," kata Hutomo Lim.


"Mereka tanyakan izin. Karena mereka pakai cara memaksa memeriksa izin, jadi saya memang tidak lihatkan (izin). Kita juga punya ego, apalagi pakai caranya seperti itu," sambungnya.


Setelah perdebatan tersebut, muncullah pemberitaan yang menyebutkan bahwa bisnis digelutinya diduga tidak memiliki izin. Disebutkannya, tudingan itu tidak benar, dan menilai pemberitaan tersebut hanya berasumsi.


Dijelaskannya bahwa usaha yang didirikannya masih berskala industri rumahan, yang telah mengantongi izin dari Dinas Kesehatan, Perizinan Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau.


"Kita punya izin dari Dinas Kesehatan, PIRT dan kita juga memiliki setifikat halal dari MUI Provinsi Riau," tutur dia.

Halaman:

Editor: Dodi Ferdian

Terkini

Cara Budidaya Tanaman Cabe Pelangi bagi Pemula

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Harga TBS Sawit Turun Rp50,68 per Kg

Rabu, 12 Februari 2020 | 13:11 WIB

Harga CPO Mulai Bangkit

Rabu, 5 Februari 2020 | 08:50 WIB

2020, Dana Pungutan Sawit Diinvestasikan di SUN

Senin, 20 Januari 2020 | 11:12 WIB

Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Naik

Jumat, 3 Januari 2020 | 06:48 WIB

Gubri: Tidak Ada Lagi Sawit di Lahan Gambut

Selasa, 24 September 2019 | 10:41 WIB

Bupati Kampar Resmikan Pabrik Kelapa Sawit di Tapung

Senin, 9 September 2019 | 10:34 WIB
X