Hadir di FSN 2020, Nasi Sagu Rempah Didorong Jadi Alternatif Makanan Pokok di Indonesia

- Senin, 16 Maret 2020 | 14:10 WIB
IMG-20200316-WA0056
IMG-20200316-WA0056

HALUANRIAU.CO, SELATPANJANG-Festival Sagu Nusantara (FSN) 2020 telah digelar di Desa Sungai Tohor, Kepulauan Meranti. Ratusan jenis makanan hasil olahan sagu turut ditampilkan dalam iven yang berlangsung pada pekan kemarin. Salah satunya nasi sagu rempah.

Dikatakan Akademisi dari Universitas Indonesia (UI) Dr Saptarining Wulan, sagu memiliki banyak potensi untuk bisa diolah menjadi makanan. Sedikitnya terdapat 300 olahan makanan yang berhasil dikembangkan bersumber dari tanaman endemik di Kabupaten Kepulauan Meranti itu.

"Sagu juga bisa diolah menjadi butiran beras, serta diolah menjadi nasi," ujar Dr Wulan yang turut hadir dari kegiatan tersebut, seraya mengatakan upaya pengembangan dan penelitian sagu menjadi butiran beras itu sudah berlangsung sejak 2017 silam dengan melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Kini, Wulan mengatakan beras sagu telah dipasarkan di Jakarta. Untuk satu kilogram beras sagu dipasarkan Rp50 ribu. Dia menjelaskan bahwa inovasi nasi sagu rempah yang lebih mirip dengan nasi briyani itu sejatinya bertujuan untuk mengurangi aroma asam sagu.

Seiring waktu berjalan, dari hasil riset yang dilakukannya, ternyata nasi sagu rempah kaya akan bahan antioksidan. Hal itu karena bumbu rempah yang digunakan terdiri dari cengkeh, kapulaga, kayu manis, serai, jahe dan bermacam rempah lainnya.

"Rempah-rempah itu yang mengandung antioksidan tinggi," lanjut wanita yang juga menjadi pengajar di Universitas Trisakti iti.

Selain itu, dia juga mengaku bahwa nasi sagu sangat baik untuk pengganti beras padi bagi pada penderita diabetes karena kandungan glukosa yang lebih rendah. Untuk itu, dia mengatakan akan terus berupaya mendorong sagu sebagai bahan makanan utama dan diterima masyarakat Indonesia dengan baik.

"Rempah-rempah yang digunakan selain mempengaruhi aroma, rasa juga sebagai sumber antioksidan untuk tubuh kita yang akan menangkal korona," imbuh dia.

Haris Gunawan menambahkan, sejumlah inovasi yang dilakukan itu akan memberikan beragam manfaat dalam upaya pelestarian gambut, terutama dari sisi sosial ekonomi masyarakat atau revitalisasi ekonomi.

Dikatakannya, sagu ibarat mutiara di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sagu juga merupakan sahabat sejati bagi gambut. Habitat sagu yang harus hidup di tanah basah menjadi paduan sempurna menjaga gambut tetap sehat.

"Dulu nenek moyang kita menjadikan sagu sebagai bahan makanan sebelum ada beras. Mengapa kita perlu hadir di sini? Karena salah satu lokasi penting restorasi kita di sini," kata Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) itu.

Dengan upaya restorasi itu, dia mengatakan masyarakat Desa Sungai Tohor dan Pulau Tebing Tinggi secara khusus bisa bangkit dan mulai kembali bersahabat dengan alam.

Diketahui, FSN 2020 dilaksanakan di Desa Sungai Tohor selama dua hari sejak Sabtu kemarin (14/3). Kegiatan itu berlangsung berkat kolaborasi antara Pemerintah Desa setempat, Sekolah Ekologi Indonesia dan BRG.

Penulis : Dodi Ferdian

Editor: Dodi Ferdian

Terkini

Cara Budidaya Tanaman Cabe Pelangi bagi Pemula

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Harga TBS Sawit Turun Rp50,68 per Kg

Rabu, 12 Februari 2020 | 13:11 WIB

Harga CPO Mulai Bangkit

Rabu, 5 Februari 2020 | 08:50 WIB

2020, Dana Pungutan Sawit Diinvestasikan di SUN

Senin, 20 Januari 2020 | 11:12 WIB

Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Naik

Jumat, 3 Januari 2020 | 06:48 WIB

Gubri: Tidak Ada Lagi Sawit di Lahan Gambut

Selasa, 24 September 2019 | 10:41 WIB

Bupati Kampar Resmikan Pabrik Kelapa Sawit di Tapung

Senin, 9 September 2019 | 10:34 WIB
X