Harga TBS Sawit Turun Rp50,68 per Kg

- Rabu, 12 Februari 2020 | 13:11 WIB
Petani Sawit
Petani Sawit

HALUANRIAU.CO, PEKANBARU- Sepekan kedepan, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau pada penetapan 12-18 Februari 2020 mengalami penurunan pada setiap kelompok umur kelapa sawit. Dengan jumlah penurunan terbesar pada kelompok umur 10-20 tahun yang mengalami penurunan harga sebesar Rp50,68 per kilogram (Kg).

"Terjadi penurunan mencapai 2,76 persen dari harga minggu lalu. Sehingga harga TBS untuk satu minggu menjadi Rp 1.865,81 per kg," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau, Defris Hatmaja di Pekanbaru, Selasa (11/2).

Ia menjelaskan, penurunan harga TBS periode ini disebabkan oleh terjadinya penurunan harga jual CPO dan kernel dari seluruh perusahaan sumber data. Yang mana, untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami penurunan sebesar Rp139,23 per kg, Sinar Mas Group mengalami penurunan harga sebesar Rp310,43 per kg, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp79,32 per kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp136,21 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp82,00 per kg dari harga minggu lalu.

Sedangkan untuk harga jual kernel, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan sebesar Rp77,27 per kg, dan Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp452 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp353,34 per kg dari harga minggu lalu.

"Sehingga harga CPO sebesar Rp8.522,85 dan harga kernel Rp4.679,60," pungkasnya.

Sementara secara nasional, anjloknya harga komoditas membuat target penerimaan negara dari sektor minerba terancam tak capai target. Apalagi, target yang dipasang APBN mengacu pada harga yang tinggi kemarin.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono tak menampik kondisi global yang membuat harga komoditas anjlok. Kondisi ini kata Bambang membuat target yang dipasang APBN sulit untuk dicapai.

"APBN mematok harga batu bara mencapai 90 dolar AS per ton, padahal kondisi saat ini batu bara saja terus merosot dan berada di level 60 dolar AS per ton. Artinya, APBN memproyeksikan PNBP bisa menyentuh Rp 44,3 triliun," ujar Bambang.

Bambang menjelaskan harga komoditas yang anjlok kemudian mempengaruhi rencana produksi para pengusaha. Para pengusaha perlu menahan laju produksi karena harga yang sedang tidak menarik. Tahun ini rencana produksi dipatok sebesar 550 juta ton.

"Tapi ini masih ada peluang untuk direvisi ketika harga sudah mulai naik. Kalau bisa sampai 70 dolar AS per ton, harapannya produksi juga bisa naik," ujar Bambang.

Bambang pun tak menampik selain kondisi harga yang kurang menarik, para pengusaha tambang juga merasa iklim investasi dalam negeri masih wait and see. Persoalan kepastian hukum memaksa perusahaan tambang memperhitungkan ketat untuk melakukan investasi dan meningkatkan produksi.

"Kendalanya memang juga soal kepastian hukum dan regulasi. Ini berdampak pada rencana investasi perusahaan," tutupnya.

 

 

 

Reporter: Renny Rahayu

Editor: Eka Buana Putra

Terkini

Cara Budidaya Tanaman Cabe Pelangi bagi Pemula

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Harga TBS Sawit Turun Rp50,68 per Kg

Rabu, 12 Februari 2020 | 13:11 WIB

Harga CPO Mulai Bangkit

Rabu, 5 Februari 2020 | 08:50 WIB

2020, Dana Pungutan Sawit Diinvestasikan di SUN

Senin, 20 Januari 2020 | 11:12 WIB

Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Naik

Jumat, 3 Januari 2020 | 06:48 WIB

Gubri: Tidak Ada Lagi Sawit di Lahan Gambut

Selasa, 24 September 2019 | 10:41 WIB

Bupati Kampar Resmikan Pabrik Kelapa Sawit di Tapung

Senin, 9 September 2019 | 10:34 WIB
X