Tradisi Buka Bersama di Masjid Raja Sultan Pulau Penyengat

TANJUNG PINANG (HR)- Ratusan warga dari berbagai daerah, berbuka puasa di Masjid Raja Sultan Riau, Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Minggu (26/5). Namun, tak seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan pada tahun ini terdapat penurun pengunjung

“Bukan hanya warga Tanjungpinang dan wisatawan dari berbagai daerah yang berbuka puasa di Pulau Penyengat, melainkan juga wisatawan asal Malaysia dan Singapura,” kata Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri, Abdul Razak.

Related posts

Berbuka puasa dan Salat Tarawih di Pulau Penyengat, sudah seperti tradisi tahunan. Warga setempat maupun warga kebangsaan Malaysia dan Singapura, yang memiliki hubungan saudara dengan raja-raja terdahulu di Pulau Penyengat mengikuti kegiatan tersebut.

Selain melakukan ibadah, tradisi yang dilakukan adalah ziarah ke kuburan sultan atau raja di sekitar Pulau Penyengat.

“Kalau sekarang mungkin tidak seperti dahulu. Kalau dahulu, rasanya kurang lengkap kalau tidak beribadah di Pulau Penyengat saat Ramadan. Jadi pulau ini selalu ramai dikunjungi warga saat puasa,” jelasnya.

Di Pulau Penyengat terpantau, jumlah warga dan wisatawan yang berkunjung ke pulau bersejarah itu tidak banyak. Pedagang juga tidak banyak yang berjualan, mereka khawatir merugi karena sepinya pengunjung. “Tahun ini agak sepi, tidak seperti tahun sebelumnya,” ucap Cik Noi, salah seorang pedagang di sekitar Masjid Raya Sultan Riau.

Sejumlah pengemudi becak motor juga mengatakan, tidak ada penumpang. Warga yang berkunjung ke Pulau Penyengat lebih senang berjalan kaki atau menunggu di masjid.

Masjid peninggalan Kesultanan Lingga-Riau tersebut mulai dibangun pada tahun 1761. Awal berdiri, masjid itu hanya beralas batu bata dan berdinding kayu serta satu menara setinggi 6 meter. Ketika pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Lingga-Riau tahun 1831-1844, masjid yang berada di tepi laut itu diperbaiki dan diperluas.

Sebab dirasa keuangan kesultanan terbatas maka Sultan Abdurrahman berkata kepada rakyat Riau agar beramal untuk memperluas masjid. Membangun masjid adalah amal jariyah maka mayoritas rakyat Riau yang beragama Islam melakukan sedekah dengan apa yang dimiliki.

Bertepatan dengan Lebaran, 1 Syawal 1248 Hijriah atau tahun 1832 Masehi, seluruh rakyat dari berbagai penjuru Lingga-Riau tak hanya membantu menjadi pekerja namun juga mengantarkan makanan buat pekerja. Makanan yang dikirim melimpah terutama telur.

Saking banyaknya telur sampai para pekerja bosan sehingga hanya kuning telurnya yang disantap. Sementara putih telur, dibuang sayang, maka digunakan sebagai bahan campuran untuk merekatkan pasir dan kapur. Dari sinilah yang membuat masjid itu dikenal pembangunannya dari putih telur.

Tak jauh dari Masjid tersebut, terdapat sebuah bangunan berwarna kuning berpadu dengan hijau. Bangunan bergaya perpaduan Tiongkok dengan unsur budaya lain itu merupakan komplek makam keluarga Sultan Riau.

Di tempat itu ada makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Lingga-Riau 1760-1812, Raja Ahmad Penasihat Kerajaan, Raja Ali Haji Pujangga Kerajaan, Raja Abdullah Yom Lingga-Riau IX, dan Raja Aisyah Permaisuri.

Bagi masyarakat Melayu, Raja Hamidah merupakan sosok yang sangat dimuliakan. Ketika dinikahi oleh Sultan Mahmud, mas kawinnya berupa Pulau Penyengat.Banyak kisah yang mengagungkan Raja Hamidah. Tak heran bila di komplek itu, makam Raja Hamidah berada di dalam ruang dalam bagian utama. (cdn/riz)