Nelayan Lihat Pesawat Terbang Miring

KARAWANG (HR)- Pada Senin (29/10) subuh, Samin (38), nelayan di Dusun Pakis II, RT 002 RW 006, Desa Tanjungpakis, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pergi melaut seperti biasa.
Sekira dua jam perjalanan laut dari Muara Tanjungpakis, Samin tiba-tiba melihat ada pesawat dengan posisi miring melewati perahunya. Samin mengaku kerap melihat pesawat terbang saat tengah melaut.
“Saya sering lihat pesawat lewat sini. Tetapi yang ini posisi pesawatnya miring sampai sayapnya ke bawah,” ungkap Samin saat ditemui di rumahnya, Selasa (30/10).
Hanya saja, Samin tak sempat menyaksikan pesawat itu terjun ke laut. Pasalnya, saat itu posisinya membelakangi lokasi terjunnya pesawat nahas itu. Dia hanya mendengar suara keras seperti masuk ke laut kemudian meledak.
“Bunyinya keras sekali. Terus tiba-tiba perahu saya terdorong kencang oleh gelombang. Padahal saat itu cuaca tidak ada gelombang kencang,” ungkapnya.
Saat melihat ke belakang, Samin menyaksikan ada asap hitam keluar dari dalam laut. Akan tetapi, lantaran takut, Samin meninggalkan lokasi jatuhnya pesawat. Kemudian, dia melanjutkan perjalanan ke titik lain untuk menjaring udang.
“Saya baru tahu kapal yang saya lihat itu benar benar jatuh, setelah kembali ke darat banyak nelayan lain yang membicarakan pesawat jatuh,” katanya.
Lantaran shock, Samin memutuskan tidak melaut untuk sementara waktu setelah kejadian tersebut. Dia ingin menenangkan diri setelah menyaksikan kejadian nahas itu.
“Perasaan saya sudah tidak enak sejak sebelum kejadian itu sampai sekarang. Seharian ini saya hanya membetulkan jaring aja,” tutur Samin.
Hal tak biasa juga disaksikan oleh Wahidin (45), nelayan lainnya. Pagi itu, Wahidin bersama dua orang rekannya pergi melaut. Dia hendak “ngambat” atau menarik jaring yang sudah dia sebar sore hari sebelumnya. Wahidin mungkin menjadi salah satu dari beberapa nelayan yang mendengar ledakan yang diduga pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10).
“Saat itu sekitar jam 06.30 terdengar suara ‘gleger’ layaknya ledakan,” ungkap Wahidin di Muara Tanjungpakis setelah menebar jaring, Selasa (30/10).
Beberapa menit setelah terdengar suara seperti ledakan, lanjut dia, ombak laut bergetar. Namun saat itu, Wahidin tak menyangka bahwa itu suara pesawat yang meledak. “Ombak tidak seperti biasanya. Cuaca cukup bagus, hanya sedikit berkabut,” ujarnya. Saat suara seperti ledakan terdengar dan ombak tak seperti biasanya, Wahidin belum sempat mengangkat jaring. “Saat itu belum sempat mengangkat jaring,” katanya. Setelah sampai di daratan, barulah dia mendengar bahwa ada pesawat yang jatuh di perairan Karawang.

24 Jenazah Korban

Related posts

Dari 24 kantong jenazah korban pesawat Lion Air JT 610 yang diterima tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri, belum ada satu pun yang dapat diidentifikasi.
“Memang kondisi yang tadi pagi, yang kita terima dari 24 kantong itu body pack,” ucap Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10).
Selain itu, Arthur mengaku sudah mendapatkan data antemortem dari keluarga korban yang totalnya 185 data. Dari data itu, ada pula ciri-ciri tiap korban. Tapi, menurut Arthur, itu belum bisa dijadikan dasar identifikasi.
“Ada ciri spesifik tapi belum dapat merilis karena dari antemortem keluarganya memiliki ciri yang sama,” ucap Arthur.
Untuk itulah, tim DVI akan bergantung pada tes DNA. Hanya, menurut Arthur, tes DNA cukup memakan waktu.
“Saya sudah sampaikan paling cepat 4 hari dari sekarang, 4-8 hari,” ujar Arthur.
Pesawat Lion Air JT 610 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB, Senin (29/10) kemarin, dan hendak menuju Pangkalpinang. Namun, pada pukul 06.33 WIB di hari yang sama, pesawat itu hilang kontak hingga diketahui jatuh.
Ada 189 orang di dalam pesawat itu, termasuk penumpang dan awak kabin. Kini personel Badan SAR Nasional sedang berusaha melakukan di lokasi jatuhnya pesawat, di laut sebelah utara Karawang, Jawa Barat.(kpc, dtc)