Diduga Rambah Kawasan Hutan Lindung Bengkalis Warga Laporkan Pengusaha Siregar ke Polda Riau

PEKANBARU (HR)- Warga desa Muara Dua Kecamatan Siak Kecil, Bengkalis lapiokan dugaan perambahan hutan yang dilakukan sejumlah pengusaha ke Polda Riau, Selasa (23/10) kemarin.

Dalam pelaporannya warga didampingi kuasa hukumnya Wan Subantriarti, Mulia Raja Petrus dan Sucipto Sihite. “Kemarin kita sudah melaporkan dugaan tindak pidana melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam Kawasan Hutan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2013 Pasal 92 ayat 1 (1) Point a dan b. Dan sudah diterima kemarin,” terang Wan Subantriarti selaku Kuasa Hukum masyarakat Desa Muara Dua.

Related posts

Dijelaskannya, dalam kawasan hutan lindung tersebut saat ini terdapat kebun kelapa sawit dengan luas sekitar 250 hektar yang rata-rata berumur 1 hingga 2 tahun. Dimana diduga merupakan milik kelompok pengusaha berinisial US atau yang dikenal Siregar.

Sementara sebelumnya, pada tahun 2016 lalu, aparat gabungan dari Kepolisian, Kehutanan dan Desa bersama-sama dengan masyarakat melakukan razia. “Dari operasi tersebut menghasilkan penghalauan 3 unit alat berat jenis excavator dari kawasan hutan itu,” tuturnya.

Di tahun 2017, seakan tak jera kelompok ini kembali berhasil dihadang oleh masyarakat saat melakukan penataan areal lahan perkebunan dengan menggunakan 7 unit alat berat. Lanjut, di 2018 kembali membawa alat berat kelompok ini masuk lagi di kawasan hutan tersebut dan berhasil dihalau oleh masyarakat. “Aksi ini sudah keterlaluan. Dengan inisiatif sendiri, masyarakat dan aparat Desa sudah berusaha maksimal. Saat ini, warga meminta negara dengan aparat hukum segera hadir dan bertindak. Kasihan warga selalu diintimidasi karena tak setuju dengan ulah pengusaha tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini kondisi di Desa tersebut diselimuti ketakutan. Sebab, kelompok pengusaha Siregar dan teman-temannya ini selalu mencari kesalahan warga dengan berlindung di balik aparat hukum setempat. “Ada beberapa warga yang ditangkap Polisi. Warga ini melawan dan saat ini sedang berusaha mencari keadilan. Tak hanya kelompok Siregar ini, ada juga kelompok pengusaha dari Jakarta yang disebut-sebut dengan nama Alex yang turut diduga terlibat merambah hutan. Dan juga sudah dilaporkan,” papar Wan.

Dalam melaporkan kasus perambahan ini, warga juga mengemukakan permintaan Perlindungan Saksi dan Pelapor yang diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2013 pasal 7 ayat (1), yakni setiap orang yang menjadi Saksi, pelapor dan informan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Pembalakan Liar wajib diberikan perlindungan khusus oleh Pemerintah.

Sementara untuk memperkuat laporan tersebut, Wan menyertakan berkas berisikan 11 titik koordinat diduga lokasi kebun Siregar Cs di kawasan hutan. Turut juga dilampirkan Peta Lokasi Perambahan Hutan kelompok Siregar Cs, Peta Lokasi RTRW Riau tahun 2018 – 2038 <20182038>, Peta Lokasi Batas Daerah Kabupaten Bengkalis dengan Kabupaten Siak. “Kita berharap kepolisian segara menindaklanjuti laporan pengaduan ini. Karena masyarakat sendiri telah berjuang bahkan sampai dikriminalisasi gara-gara mempertahankan hutan ini,” tutupnya.(rtc)